SUARA
DIBALIK KERINDUAN
Kenyataan
yang tak seindah harapan, inilah yang aku rasakan sekarang. Aku selalu berharap
hidupku ini lebih beruntung dari orang-orang yang ada di dekatku dan yang baru
aku kenal beberapa menit yang lalu. Namun faktor lain lah yang membuat harapan
ini tidak akan pernah menjadi kenyataan. Aku bingung dengan kehidupan ini,
rasanya keberuntungan selalu ada di dekatku tetapi pada kenyataannya masih
lebih banyak orang yang lebih beruntung bila dibandingkan denganku dan jika
dikatakan akulah manusia yang sangat tidak beruntung ternyata masih lebih banyak
orang diluar sana yang hidupnya lebih tidak beruntung. Dunia ini begitu banyak
cerita dan skenario kehidupan yang tak bisa tergambar dengan jelas jalan
ceritanya, namun percayalah dibalik cerita dan skenario yang sedang kita jalani
sekarang. Di situlah kunci dari harapan dan mimpi kita untuk mengapai dan
mendapatkan peran kehidupan sebagai modal agar bisa mengukir sejarah dalam
hidup.
Pemuda
desa dengan postur tinggi badan 165 cm berambut keriting dan berkulit sawo
matang itulah aku, seorang pemuda yang tinggal di desa terpencil dan amat jauh
dari pusat kota, kami memanggil desa itu dengan sebutan Desa Brandan. Bisa
dibayangkan akses masuk ke desa yang terpencil dan jauh dari pusat kota pasti
tak semudah dan secepat akses di perkotaan yang hanya hitungan menit. Untuk
menuju desa waktu yang dibutuhkan bisa sampai hitungan jam bahkan hitungan hari
dari pusat kota, itu pun harus ditempuh dengan berjalan kaki jika hari hujan. Desaku
terletak di bawah Taman Bukit Tiga Puluh Provinsi jambi, meskipun disebut taman
tetap saja yang namanya hutan ya hutan yang di dalamnya banyak binatang buas
tidak seperti taman-taman di kota yang bisa untuk liburan santai. Tidak ada
yang boleh masuk ke dalam hutan tanpa pengawasan pihak yang berwajib walaupun
terkadang ada juga yang masuk ke hutan tanpa izin dari pihak yang berwajib, ya
seperti itulah kebiasaan orang Indonesia pada umumnya.
Di
atas rooftop diantara kursi kosong, aku menantikan hangatnya sinar mentari yang
kian menyingsing dari ufuk timur. Seakan tergambar manis dan indahnya hari ini
dari balik dinginnya pagi yang disertai dengan rasa rindu. Sebuah pena hitam
yang terlilit benang abu-abu dan kertas putih tanpa noda bersedia menjadi wadah
kerinduan serta kehangatan di masa lalu ku. Pagi ini rasa nyaman menghampiriku,
mata ini perlahan ku pejamkan dan sedikit demi sedikit teringat kenangan masa
lalu.
Axel
itulah nama panggilanku, aku dibesarkan di desa dengan kultur maupun adat
istiadat yang berlaku dan selalu bersanding dengan agama yang dianggap penting
dalam kehidupan ini. Aku terlahir bukanlah dari keluarga orang kaya dan bukan
dari ekonomi yang lebih diatas rata-rata, orang tua ku seorang petani padi,
beliau berusaha sekuat tenaga agar anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan
hingga sukses nanti. Sebagai seorang anak aku tidak menyadari bahwa setiap hari
aku selalu dimarahi karena kelalaian dan kenakan, itu semua karena mereka
sayang dan perhatian padaku. Terkadang aku selalu menganggap orang tuaku tidak
seperti orang tua teman-temanku yang selalu memanjakan anak-anak mereka setiap
harinya, aku selalu berpikiran kalau aku adalah anak tiri sehingga selalu di
marah setiap waktu padahal ini semua adalah proses belajar dalam kehidupan.
Waktu
terus berjalan masa kanak-kanak ku telah lewat, kini aku mengajak ke masa
pubertas atau remaja. Aku mulai sedikit mengerti kenapa hidup harus
diperjuangkan dan kenapa hidup itu harus ada pilihan. Sekarang aku akan
melanjutkan sekolah di tingkat SMP, karena pada waktu SD aku merasa lebih
pintar dari pada yang lain, aku lebih memilih sekolah keluar dari desa meskipun
di desaku sudah ada sekolah baru. Waktu itu, aku meminta kepada ibu ku.
“Mak, besok setelah aku lulus sekolah, aku
mau sekolahnya ke luar desa yang lebih enak sekolahnya.”
“La kenapa tidak sekolah di sini aja? Kan
uda ada sekolah baru.”
“Enggak mau, kalau misalnya sekolah di
sini percuma, mendingan gak usah sekolah.”
“La kenapa kan sama-sama sekolah?”
“Pokoknya kalau sekolah di sini, mendingan
gak usah sekolah.” Pergi meninggalkan ibu
Sebagai
anak yang hanya bisanya meminta, tanpa harus tahu apa akibatnya dan tidak mengerti
bahwa semua keputusan itu harus dipertimbangkan dengan matang. Apalagi aku anak
laki satu-satunya di keluarga, ditambah lagi ke dua saudariku sekarang sudah
ada yang berkeluarga dan sudah ada bakal calon suaminya. Berarti setelah aku
pergi nanti yang membantu kegiatan rumah dan yang lainnya tidak ada. Semenjak
kejadian itu aku tidak mau membahas tentang permintaanku itu.
Malam
ini ketika semua keluarga berkumpul kecuali saudariku yang pertama, dia tidak
bisa berkumpul seperti biasa karena sudah berkeluarga dan tempat tinggalnya juga
sangat jauh. Seperti biasa malam ini kami bersantai dan bercanda ria layaknya
keluarga kecil yang bahagia. Di saat itulah aku berpikir apakah keluarga ini
akan seperti ini terus selalu bercanda bersama dan selalu seperti ini untuk selamanya.
Terkadang aku bosan dengan keadaan yang aku jalani sekarang, tidak ada
perkembangan dan selalu berada di titik tanpa perubahan, ini lah aku anak kecil
yang tidak tahu apa-apa dan hanya bisa mengelu tanpa menikmati waktu yang ada
bersama keluarga tercinta.
“Xel,
gimana bentar lagi kan lulus sekolah, mau ngelanjut ke mana?”
Pertanyaan itu keluar dari ucapan
bapak yang ternyata sudah mendengar permintaan ku dari ibu. Aku bingung mau
jawab apa, karena aku takut kalau misalnya aku bilang mau sekolah jauh dan
tidak mau sekolah jika harus sekolah di desa.
“Kalau boleh sih sekolah di pulau Jawa.”
Jawabku
“Yakin mau sekolah ke sana? Memang ada
siapa di sana? Di sana tidak ada keluarga dan tempatnya jauh nanti kalau ada
apa-apa susah hubunginya.”
“Sekolah di sini aja, bisa bantu ibu bapak
jadi gak terlalu repot dan biaya sekolah juga gak terlalu mahal.” Dengan santai
kakak ku memberi argumen
“la biar la anaknya mau sekolah mana,
asalkan bener.” Ibuku mendukung dengan berat hati.
“Gini aja, sekolahnya gak usah di jawa, di
Rimbo aja, di sana ad kenalan bapak jadi gampang kalau mau ngubungi kalau ada
apa-apa dan kalau nanti kamu mau terus lanjut sekolahnya ya terserah kalau mau
Ke Jawa.” Ayah ku memberikan solusi dangan mempertimbangkan segala hal.
Dari
situlah aku mulai tersenyum, aku tidak lagi tinggal di desa yang jauh dari
keramaian bahkan semua fasilitas umum dan negara belum ada satu pun di desa ini
kecuali rumah adat dan masjid yang kecil. Tanpa aku sadari ternyata untuk
memutuskan aku pergi sekolah keluar desa itu ternyata sangat berat untuk kedua
orang tuaku, meskipun tidak di ucapkan oleh mereka namun terlihat diraut wajah
beliau ketika melepaskan ku pergi.
Setelah
lulus SD aku di antar mendaftar sekolah ke Rimbo. Rimbo merupakan kota kecil
yang berada dekat salah satu kabupaten di Jambi dan jarak dari desa ke rimbo
bisa di tempuh sekitar 4 jam perjalanan menggunakan kendaraan roda dua,
meskipun kota ini tidak seperti kota-kota yang ada di pulau Jawa namun di
sinilah harapan ku akan terukir mulai detik ini. Dari segala urusan tentang
sekolah baru ku, orang tua ku lah yang mengurus segalanya dan disaat aku
diterima di salah satu sekolah yang bisa di bilang favorit di kota itu aku
dititipkan di rumah salah satu orang yang di kenal oleh ayahku dan berharap
sampai lulus bisa di jaga di sana. Satu semester telah berlalu dan selama itulah
aku tinggal di rumah yang sering aku sebut paman, aku merasa tidak bebas di
sini. Segala sesuatu yang aku lakukan selalu diawasi dan yang paling tidak aku
sukai disuruh membantu pekerjaan rumah dan perkebunan. Sebenarnya itu semua
bagus untuk ku, semua yang disuruh di rumah paman itu untuk proses aku bagai
mana cara belajar kita hidup di dunia. Namun, karena aku merasa tidak nyaman
lagi, waktu aku pulang pada saat liburan aku meminta untuk tinggal di tempat
kos dengan alasan bisa belajar dengan tenang tanpa gangguan. Walaupun awalnya
berat untuk mengizinkan, akhirnya kedua orang tua menyetujui permintaanku.
Kehidupan
kos, di sinilah awal mula aku menyadari bahwa hidup itu tidak akan selalu berjalan
seiring dengan ke inginan kita, namun tetap saja aku adalah sosok individu
dengan sifat ego yang tinggi. Hidup di dunia akan selalu disuguhkan dengan
berbagai pilihan, setiap pilahan akan menuntut kita untuk selalu konsisten
entah itu pilihan dalam hal yang baik maupun ke dalam hal yang buruk. Kini aku
merasa dunia ini milikku seorang, aku berpikir bahwa jika tidak ada aku di
dunia maka kehidupan tidak akan berjalan sampai sekarang. Berawal dari
sifat-sifat yang ada dalam diriku ini, aku mulai mengenal dunia remaja. Dunia
remaja mengajarkan ku hal yang belum pernah aku alami, seperti halnya pacaran,
berbohong, membelanjakan uang jajan untuk hal-hal yang tidak penting dan hampir
membakar rumah orang.
Kehidupan
ini terus berlanjut seiring berjalannya waktu, setelah melewati kehidupan
masa-masa SMP yang tidak tertata dengan baik, kini aku berada di masa SMA dan
masih dalam koridor sekolah favorit di daerah. Di sinilah harapan hidup yang
sesungguhnya dalam diriku mulai muncul dan membawa pola pikir ini menjadi
tenang ketika berada di dekatnya. Aku mulai mengenal dia satu bulan setelah
kegiatan proses belajar di sekolah aktif, dia wanita yang menurut orang
biasa-biasa saja tetapi bagiku dia wanita yang luar biasa dan istimewa di
mataku. Wanita satu ini mempunyai paras yang manis, bola mata biru kehitaman
menambah keteduhan jika memandangnya dan ditambah lagi dia mengenakan hijab bak
bidadari surga yang turun ke bumi. Dia lulusan MTS ternama di Kota Padang,
pekerjaan orang tuannya lah yang menuntut dia harus bersekolah di kota kecil
ini. Perjalanan hidup ini terasa ringan, ketika setiap hari aku melihatnya di
sekolah dan kini aku mulai sedikit mencari perhatiannya. Selama tiga minggu aku
mencari cara dekat dengan dia dan sekarang aku sering pulang pergi sekolah
dengannya. Apalagi berpamitan dengan orang tuanya jika mau berangkat sekolah
dan keluar bersama hanya untuk menghilangkan pusing dengan tugas-tugas sekolah.
Setelah sekian lama berjalan berdua tanpa ikatan, hari ini aku dan dia mulai
resmi berpacaran yang berarti kami saling mengikat perasaan ini dengan status
pacaran. Seperti biasa setiap hubungan pasti ada manis dan ada pahitnya, baik
itu dari aku dan dia maupun perkataan orang lain ke kami tentang hal-hal yang
negatif. Padahal selama kami belum resmi berpacaran hingga sekarang menjalin
hubungan kami tidak pernah melakukan hal-hal negatif seperti anggapan
orang-orang, bedah halnya dengan aku yang dulu yang suka mempermainkan wanita
seenaknya. Sekarang aku berubah, aku lebih menghargai wanita yang aku sayangi
seperti aku menyayangi ibunda tercinta, karena wanita yang aku kenal sekarang
ini telah memperlihatkan rasa sayang yang sebenarnya sehingga aku bisa
merasakan semua perasaan manusia terutama wanita.
Hilangnya
sipat jelek ku yang dulu mempengaruhi semua pergaulan ku, membuat teman-teman
yang dulu ada dan selalu bersenang-senang bersama kini tidak pernah lagi
menampakkan wajah-wajahnya di hadapanku, mereka lebih memilih menjauhi ku. Kini
aku berubah total menjadi anak yang lebih baik dari dulu, memulai belajar agama
dari awal dengan baik karena terinspirasi. Lembaran baru telah aku buka, semua
terasa mengulangi hidup dari awal dengan hal-hal yang positif, semua itu karena
dia yang telah membuat hidup ini berubah.
Mala
ini, kami jalan berdua seperti biasa menghilangkan rasa lelah seharian di
sekolah. Di tempat makan yang sederhana ini, kami selalu berbagi cerita dan
meracang kehidupan di masa depan. Malam ini suasana terasa dingin, di temani
kopi hangat kami bercanda tawa dan pada akhirnya dia berkata.
“Ini ada hadiah buat kamu.” Mengulurkan
sebuah kotak
“Hadiah? Kok gak biasa-biasanya? Ini
tanggal berapa si.? Kan juga bukan ulang tahun ku.” Sambil aku ambil
“Uda buka aja dulu, itu hadiah buat kamu.”
“Oke aku buka ya, waaw apa an ni? Jam
tangan.” Tersenyum bahagia.
“Iya. Itu untuk mengingatkan kamu di
setiap waktu biar gak lupa sholat dan mengingatkan tentang diriku.” Mulai
berkaca-kaca
“Maksudnya?” aku mulai bingung dengan
perkataanya.
“Aku rasa hubungan kita sampai sini aja
ya. Kalau memang kita jodoh akan ada masanya kita berjumpa lagi.”
“Entar kamu ada masalah apa? Cerita jangan
seperti ini.”
“Uda cukup, tidak ada lagi yang perlu
dibahas dan terima kasih uda menghiasi hati ini.” Menangis dan memalingkan diri
lalu pergi pulang
Malam
itulah terakhir aku bertemu dengannya dan berbicara, setelah kejadian malam itu
dia begitu susah di temui baik di sekolah maupun di rumahnya bahkan teman nya
juga tidak mau memberi tahu apa penyebab semua ini. Jam tangan hitam dihiasi
dengan sedikit warna merah inilah yang sekarang menemani aku menggantikan dia.
Aku bingung dengan sikapnya malam itu, apa salahku sehingga dia memilih untuk
mengakhiri hubungan ini. Berbagai pertanyaan silih berganti datang menghampiri isi
kepala ku, hingga membuatku lupa dengan pesan terakhir yang dia ucapkan “Jika
kita jodoh akan bertemu suatu hari nanti”. Semua sikap itu mempengaruhi cara
belajar ku, nilaiku mulai merosot semester ini dan aku merasa terpukul dengan
semua kejadian malam itu.
Jam
ini membuatku sadar, bahwa waktu tak akan pernah terulang. Waktu akan terus
berjalan tanpa memandang apa yang telah ia lewati. Jarum silver yang memutar di
jam ini menandakan bahwa waktu esok akan datang dengan semangat baru dan harus
dihadapi dengan senyuman. Mulai hari ini aku putuskan aku tidak akan pernah
pacaran hingga tiba saatnya aku dipertemukan dengan jodoh ku yang sebenarnya.
Jam ini menjadi saksiku untuk selalu istikomah di jalan sang ilahi, memperbaiki
iman dan amal agar kelak aku mendapat pendamping yang seiman dan layak untuk
diperjuangkan.
Sekian
lama aku melewati masa remaja dan masa-masa yang ada dalam hidup ini, kini aku
berada di Jakarta dengan penampilan ku yang akan menuju dewasa. Di sini dan
tahun inilah awal aku memijakkan kaki di pulau Jawa, meninggalkan kedua orang
tua dan kampung halaman begitu jauh. Cita-citaku sekolah di Jawa kini terwujud
hari ini, aku diterima di salah satu Universitas yang ada di depok. Sebelum aku
berangkat menujuh tempat perkuliahan ku, kedua orang tuaku berpesan begitu
banyak kepadaku salah satu pesan beliau “Nak ingat, hidupmu masih panjang,
jangan sia-siakan waktu yang kamu punya.” Itulah salah satu motivasi ku bisa
kuat menginjakkan kaki di pulau yang keras akan kehidupannya dan padat dengan
penduduknya ini. Ternyata aku baru tahu dari saudari perempuanku yang pertama,
aku bisa menginjakkan kaki dan kuliah di sini karena dari sewaktu aku SD kedua
orang tuaku susah payah menabung uang untuk mewujudkan cita-citaku dari kecil,
saudariku berpesan “Jangan sia-siakan pengorbanan bapak dan ibu, jadilah anak
yang membanggakan karena kamulah satu-satunya harapan mereka” dan akhirnya hari
ini pun tiba. Dari situlah perjalanan kaki ini semakin berat untuk menuju ke
finis karena begitu banyak beban yang harus aku bawa namun berkat semua
dukungan kedua orang tua dan keluarga-keluargaku di sana aku selalu bangkit
dari segala cobaan.
Di
Depok aku tidak hanya belajar saat di perkuliahan saja, untuk memperdalam iman
dan cara ku dalam memandang agama ini, akhirnya aku memutuskan untuk kuliah bersamaan
dengan belajar di pondok. Sekarang aku berada di atas rooftop pondok pesantren,
kini aku telah banyak belajar tentang agama islam di pondok ini. Di pondok
pesantren inilah aku akan menutup semua lembaran masa lalu ku yang buruk dan
membuka lembaran-lembaran masa depan dengan mushaf-mushaf Al-Quran dan sukses
membanggakan kedua orang tuaku dunia dan akhirat. Terdengar suara yang
memanggil namaku “Xel-Xel, ayo turun kita ada pengajian hari ini, kamu lupa?”
mendengar suara itu perlahan ku buka mata ini. Suara itu datang dari bawah
rooftop “Oke, sebentar bentar lagi selesai.” Jawabku sambil memberi isyarat.
“Maaf
tahun baru ini anakmu tidak bisa pulang, Semoga bapak dan ibu sehat selalu di
sana, jangan khawatirkan anakmu di sini. Namamu akan selalu ada dalam setiap
sujud ini dan doakan anakmu agar bisa mewujudkan cita-cita dan harapan mu.” Ku
tulis dalam bait sebuah doa dan harapan di buku ku ini.
Biografi
Penulis
Nama
saya Vira Kurniawan, saya lahir di Kota Medan tanggal 7 Juli 1997. Saya seorang
laki-laki yang mempunyai dua orang saudari perempuan. Saya sekolah di SD Negeri
214/VIII Malako, SMP Negeri 3 Tebo, SMA Negeri 2 Tebo di provinsi Jambi dan
sekarang saya kuliah di Depok salah satu Universitas Swasta, Yaitu Universitas
Gunadarma di jurusan Teknik Elektro.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar