Rabu, 07 Maret 2018

Mimpi dan Harapan



SUARA DIBALIK KERINDUAN
Kenyataan yang tak seindah harapan, inilah yang aku rasakan sekarang. Aku selalu berharap hidupku ini lebih beruntung dari orang-orang yang ada di dekatku dan yang baru aku kenal beberapa menit yang lalu. Namun faktor lain lah yang membuat harapan ini tidak akan pernah menjadi kenyataan. Aku bingung dengan kehidupan ini, rasanya keberuntungan selalu ada di dekatku tetapi pada kenyataannya masih lebih banyak orang yang lebih beruntung bila dibandingkan denganku dan jika dikatakan akulah manusia yang sangat tidak beruntung ternyata masih lebih banyak orang diluar sana yang hidupnya lebih tidak beruntung. Dunia ini begitu banyak cerita dan skenario kehidupan yang tak bisa tergambar dengan jelas jalan ceritanya, namun percayalah dibalik cerita dan skenario yang sedang kita jalani sekarang. Di situlah kunci dari harapan dan mimpi kita untuk mengapai dan mendapatkan peran kehidupan sebagai modal agar bisa mengukir sejarah dalam hidup.
Pemuda desa dengan postur tinggi badan 165 cm berambut keriting dan berkulit sawo matang itulah aku, seorang pemuda yang tinggal di desa terpencil dan amat jauh dari pusat kota, kami memanggil desa itu dengan sebutan Desa Brandan. Bisa dibayangkan akses masuk ke desa yang terpencil dan jauh dari pusat kota pasti tak semudah dan secepat akses di perkotaan yang hanya hitungan menit. Untuk menuju desa waktu yang dibutuhkan bisa sampai hitungan jam bahkan hitungan hari dari pusat kota, itu pun harus ditempuh dengan berjalan kaki jika hari hujan. Desaku terletak di bawah Taman Bukit Tiga Puluh Provinsi jambi, meskipun disebut taman tetap saja yang namanya hutan ya hutan yang di dalamnya banyak binatang buas tidak seperti taman-taman di kota yang bisa untuk liburan santai. Tidak ada yang boleh masuk ke dalam hutan tanpa pengawasan pihak yang berwajib walaupun terkadang ada juga yang masuk ke hutan tanpa izin dari pihak yang berwajib, ya seperti itulah kebiasaan orang Indonesia pada umumnya.
Di atas rooftop diantara kursi kosong, aku menantikan hangatnya sinar mentari yang kian menyingsing dari ufuk timur. Seakan tergambar manis dan indahnya hari ini dari balik dinginnya pagi yang disertai dengan rasa rindu. Sebuah pena hitam yang terlilit benang abu-abu dan kertas putih tanpa noda bersedia menjadi wadah kerinduan serta kehangatan di masa lalu ku. Pagi ini rasa nyaman menghampiriku, mata ini perlahan ku pejamkan dan sedikit demi sedikit teringat kenangan masa lalu.
Axel itulah nama panggilanku, aku dibesarkan di desa dengan kultur maupun adat istiadat yang berlaku dan selalu bersanding dengan agama yang dianggap penting dalam kehidupan ini. Aku terlahir bukanlah dari keluarga orang kaya dan bukan dari ekonomi yang lebih diatas rata-rata, orang tua ku seorang petani padi, beliau berusaha sekuat tenaga agar anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan hingga sukses nanti. Sebagai seorang anak aku tidak menyadari bahwa setiap hari aku selalu dimarahi karena kelalaian dan kenakan, itu semua karena mereka sayang dan perhatian padaku. Terkadang aku selalu menganggap orang tuaku tidak seperti orang tua teman-temanku yang selalu memanjakan anak-anak mereka setiap harinya, aku selalu berpikiran kalau aku adalah anak tiri sehingga selalu di marah setiap waktu padahal ini semua adalah proses belajar dalam kehidupan.
Waktu terus berjalan masa kanak-kanak ku telah lewat, kini aku mengajak ke masa pubertas atau remaja. Aku mulai sedikit mengerti kenapa hidup harus diperjuangkan dan kenapa hidup itu harus ada pilihan. Sekarang aku akan melanjutkan sekolah di tingkat SMP, karena pada waktu SD aku merasa lebih pintar dari pada yang lain, aku lebih memilih sekolah keluar dari desa meskipun di desaku sudah ada sekolah baru. Waktu itu, aku meminta kepada ibu ku.
“Mak, besok setelah aku lulus sekolah, aku mau sekolahnya ke luar desa yang lebih enak sekolahnya.”
“La kenapa tidak sekolah di sini aja? Kan uda ada sekolah baru.”
“Enggak mau, kalau misalnya sekolah di sini percuma, mendingan gak usah sekolah.”
“La kenapa kan sama-sama sekolah?”
“Pokoknya kalau sekolah di sini, mendingan gak usah sekolah.” Pergi meninggalkan ibu
Sebagai anak yang hanya bisanya meminta, tanpa harus tahu apa akibatnya dan tidak mengerti bahwa semua keputusan itu harus dipertimbangkan dengan matang. Apalagi aku anak laki satu-satunya di keluarga, ditambah lagi ke dua saudariku sekarang sudah ada yang berkeluarga dan sudah ada bakal calon suaminya. Berarti setelah aku pergi nanti yang membantu kegiatan rumah dan yang lainnya tidak ada. Semenjak kejadian itu aku tidak mau membahas tentang permintaanku itu.
Malam ini ketika semua keluarga berkumpul kecuali saudariku yang pertama, dia tidak bisa berkumpul seperti biasa karena sudah berkeluarga dan tempat tinggalnya juga sangat jauh. Seperti biasa malam ini kami bersantai dan bercanda ria layaknya keluarga kecil yang bahagia. Di saat itulah aku berpikir apakah keluarga ini akan seperti ini terus selalu bercanda bersama dan selalu seperti ini untuk selamanya. Terkadang aku bosan dengan keadaan yang aku jalani sekarang, tidak ada perkembangan dan selalu berada di titik tanpa perubahan, ini lah aku anak kecil yang tidak tahu apa-apa dan hanya bisa mengelu tanpa menikmati waktu yang ada bersama keluarga tercinta.
“Xel, gimana bentar lagi kan lulus sekolah, mau ngelanjut ke mana?”
            Pertanyaan itu keluar dari ucapan bapak yang ternyata sudah mendengar permintaan ku dari ibu. Aku bingung mau jawab apa, karena aku takut kalau misalnya aku bilang mau sekolah jauh dan tidak mau sekolah jika harus sekolah di desa.
“Kalau boleh sih sekolah di pulau Jawa.” Jawabku
“Yakin mau sekolah ke sana? Memang ada siapa di sana? Di sana tidak ada keluarga dan tempatnya jauh nanti kalau ada apa-apa susah hubunginya.”
“Sekolah di sini aja, bisa bantu ibu bapak jadi gak terlalu repot dan biaya sekolah juga gak terlalu mahal.” Dengan santai kakak ku memberi argumen
“la biar la anaknya mau sekolah mana, asalkan bener.” Ibuku mendukung dengan berat hati.
“Gini aja, sekolahnya gak usah di jawa, di Rimbo aja, di sana ad kenalan bapak jadi gampang kalau mau ngubungi kalau ada apa-apa dan kalau nanti kamu mau terus lanjut sekolahnya ya terserah kalau mau Ke Jawa.” Ayah ku memberikan solusi dangan mempertimbangkan segala hal.
Dari situlah aku mulai tersenyum, aku tidak lagi tinggal di desa yang jauh dari keramaian bahkan semua fasilitas umum dan negara belum ada satu pun di desa ini kecuali rumah adat dan masjid yang kecil. Tanpa aku sadari ternyata untuk memutuskan aku pergi sekolah keluar desa itu ternyata sangat berat untuk kedua orang tuaku, meskipun tidak di ucapkan oleh mereka namun terlihat diraut wajah beliau ketika melepaskan ku pergi.
Setelah lulus SD aku di antar mendaftar sekolah ke Rimbo. Rimbo merupakan kota kecil yang berada dekat salah satu kabupaten di Jambi dan jarak dari desa ke rimbo bisa di tempuh sekitar 4 jam perjalanan menggunakan kendaraan roda dua, meskipun kota ini tidak seperti kota-kota yang ada di pulau Jawa namun di sinilah harapan ku akan terukir mulai detik ini. Dari segala urusan tentang sekolah baru ku, orang tua ku lah yang mengurus segalanya dan disaat aku diterima di salah satu sekolah yang bisa di bilang favorit di kota itu aku dititipkan di rumah salah satu orang yang di kenal oleh ayahku dan berharap sampai lulus bisa di jaga di sana. Satu semester telah berlalu dan selama itulah aku tinggal di rumah yang sering aku sebut paman, aku merasa tidak bebas di sini. Segala sesuatu yang aku lakukan selalu diawasi dan yang paling tidak aku sukai disuruh membantu pekerjaan rumah dan perkebunan. Sebenarnya itu semua bagus untuk ku, semua yang disuruh di rumah paman itu untuk proses aku bagai mana cara belajar kita hidup di dunia. Namun, karena aku merasa tidak nyaman lagi, waktu aku pulang pada saat liburan aku meminta untuk tinggal di tempat kos dengan alasan bisa belajar dengan tenang tanpa gangguan. Walaupun awalnya berat untuk mengizinkan, akhirnya kedua orang tua menyetujui permintaanku.
Kehidupan kos, di sinilah awal mula aku menyadari bahwa hidup itu tidak akan selalu berjalan seiring dengan ke inginan kita, namun tetap saja aku adalah sosok individu dengan sifat ego yang tinggi. Hidup di dunia akan selalu disuguhkan dengan berbagai pilihan, setiap pilahan akan menuntut kita untuk selalu konsisten entah itu pilihan dalam hal yang baik maupun ke dalam hal yang buruk. Kini aku merasa dunia ini milikku seorang, aku berpikir bahwa jika tidak ada aku di dunia maka kehidupan tidak akan berjalan sampai sekarang. Berawal dari sifat-sifat yang ada dalam diriku ini, aku mulai mengenal dunia remaja. Dunia remaja mengajarkan ku hal yang belum pernah aku alami, seperti halnya pacaran, berbohong, membelanjakan uang jajan untuk hal-hal yang tidak penting dan hampir membakar rumah orang.
Kehidupan ini terus berlanjut seiring berjalannya waktu, setelah melewati kehidupan masa-masa SMP yang tidak tertata dengan baik, kini aku berada di masa SMA dan masih dalam koridor sekolah favorit di daerah. Di sinilah harapan hidup yang sesungguhnya dalam diriku mulai muncul dan membawa pola pikir ini menjadi tenang ketika berada di dekatnya. Aku mulai mengenal dia satu bulan setelah kegiatan proses belajar di sekolah aktif, dia wanita yang menurut orang biasa-biasa saja tetapi bagiku dia wanita yang luar biasa dan istimewa di mataku. Wanita satu ini mempunyai paras yang manis, bola mata biru kehitaman menambah keteduhan jika memandangnya dan ditambah lagi dia mengenakan hijab bak bidadari surga yang turun ke bumi. Dia lulusan MTS ternama di Kota Padang, pekerjaan orang tuannya lah yang menuntut dia harus bersekolah di kota kecil ini. Perjalanan hidup ini terasa ringan, ketika setiap hari aku melihatnya di sekolah dan kini aku mulai sedikit mencari perhatiannya. Selama tiga minggu aku mencari cara dekat dengan dia dan sekarang aku sering pulang pergi sekolah dengannya. Apalagi berpamitan dengan orang tuanya jika mau berangkat sekolah dan keluar bersama hanya untuk menghilangkan pusing dengan tugas-tugas sekolah. Setelah sekian lama berjalan berdua tanpa ikatan, hari ini aku dan dia mulai resmi berpacaran yang berarti kami saling mengikat perasaan ini dengan status pacaran. Seperti biasa setiap hubungan pasti ada manis dan ada pahitnya, baik itu dari aku dan dia maupun perkataan orang lain ke kami tentang hal-hal yang negatif. Padahal selama kami belum resmi berpacaran hingga sekarang menjalin hubungan kami tidak pernah melakukan hal-hal negatif seperti anggapan orang-orang, bedah halnya dengan aku yang dulu yang suka mempermainkan wanita seenaknya. Sekarang aku berubah, aku lebih menghargai wanita yang aku sayangi seperti aku menyayangi ibunda tercinta, karena wanita yang aku kenal sekarang ini telah memperlihatkan rasa sayang yang sebenarnya sehingga aku bisa merasakan semua perasaan manusia terutama wanita.
Hilangnya sipat jelek ku yang dulu mempengaruhi semua pergaulan ku, membuat teman-teman yang dulu ada dan selalu bersenang-senang bersama kini tidak pernah lagi menampakkan wajah-wajahnya di hadapanku, mereka lebih memilih menjauhi ku. Kini aku berubah total menjadi anak yang lebih baik dari dulu, memulai belajar agama dari awal dengan baik karena terinspirasi. Lembaran baru telah aku buka, semua terasa mengulangi hidup dari awal dengan hal-hal yang positif, semua itu karena dia yang telah membuat hidup ini berubah.
Mala ini, kami jalan berdua seperti biasa menghilangkan rasa lelah seharian di sekolah. Di tempat makan yang sederhana ini, kami selalu berbagi cerita dan meracang kehidupan di masa depan. Malam ini suasana terasa dingin, di temani kopi hangat kami bercanda tawa dan pada akhirnya dia berkata.
“Ini ada hadiah buat kamu.” Mengulurkan sebuah kotak
“Hadiah? Kok gak biasa-biasanya? Ini tanggal berapa si.? Kan juga bukan ulang tahun ku.” Sambil aku ambil
“Uda buka aja dulu, itu hadiah buat kamu.”
“Oke aku buka ya, waaw apa an ni? Jam tangan.” Tersenyum bahagia.
“Iya. Itu untuk mengingatkan kamu di setiap waktu biar gak lupa sholat dan mengingatkan tentang diriku.” Mulai berkaca-kaca
“Maksudnya?” aku mulai bingung dengan perkataanya.
“Aku rasa hubungan kita sampai sini aja ya. Kalau memang kita jodoh akan ada masanya kita berjumpa lagi.”
“Entar kamu ada masalah apa? Cerita jangan seperti ini.”
“Uda cukup, tidak ada lagi yang perlu dibahas dan terima kasih uda menghiasi hati ini.” Menangis dan memalingkan diri lalu pergi pulang
Malam itulah terakhir aku bertemu dengannya dan berbicara, setelah kejadian malam itu dia begitu susah di temui baik di sekolah maupun di rumahnya bahkan teman nya juga tidak mau memberi tahu apa penyebab semua ini. Jam tangan hitam dihiasi dengan sedikit warna merah inilah yang sekarang menemani aku menggantikan dia. Aku bingung dengan sikapnya malam itu, apa salahku sehingga dia memilih untuk mengakhiri hubungan ini. Berbagai pertanyaan silih berganti datang menghampiri isi kepala ku, hingga membuatku lupa dengan pesan terakhir yang dia ucapkan “Jika kita jodoh akan bertemu suatu hari nanti”. Semua sikap itu mempengaruhi cara belajar ku, nilaiku mulai merosot semester ini dan aku merasa terpukul dengan semua kejadian malam itu.
Jam ini membuatku sadar, bahwa waktu tak akan pernah terulang. Waktu akan terus berjalan tanpa memandang apa yang telah ia lewati. Jarum silver yang memutar di jam ini menandakan bahwa waktu esok akan datang dengan semangat baru dan harus dihadapi dengan senyuman. Mulai hari ini aku putuskan aku tidak akan pernah pacaran hingga tiba saatnya aku dipertemukan dengan jodoh ku yang sebenarnya. Jam ini menjadi saksiku untuk selalu istikomah di jalan sang ilahi, memperbaiki iman dan amal agar kelak aku mendapat pendamping yang seiman dan layak untuk diperjuangkan.
Sekian lama aku melewati masa remaja dan masa-masa yang ada dalam hidup ini, kini aku berada di Jakarta dengan penampilan ku yang akan menuju dewasa. Di sini dan tahun inilah awal aku memijakkan kaki di pulau Jawa, meninggalkan kedua orang tua dan kampung halaman begitu jauh. Cita-citaku sekolah di Jawa kini terwujud hari ini, aku diterima di salah satu Universitas yang ada di depok. Sebelum aku berangkat menujuh tempat perkuliahan ku, kedua orang tuaku berpesan begitu banyak kepadaku salah satu pesan beliau “Nak ingat, hidupmu masih panjang, jangan sia-siakan waktu yang kamu punya.” Itulah salah satu motivasi ku bisa kuat menginjakkan kaki di pulau yang keras akan kehidupannya dan padat dengan penduduknya ini. Ternyata aku baru tahu dari saudari perempuanku yang pertama, aku bisa menginjakkan kaki dan kuliah di sini karena dari sewaktu aku SD kedua orang tuaku susah payah menabung uang untuk mewujudkan cita-citaku dari kecil, saudariku berpesan “Jangan sia-siakan pengorbanan bapak dan ibu, jadilah anak yang membanggakan karena kamulah satu-satunya harapan mereka” dan akhirnya hari ini pun tiba. Dari situlah perjalanan kaki ini semakin berat untuk menuju ke finis karena begitu banyak beban yang harus aku bawa namun berkat semua dukungan kedua orang tua dan keluarga-keluargaku di sana aku selalu bangkit dari segala cobaan.
Di Depok aku tidak hanya belajar saat di perkuliahan saja, untuk memperdalam iman dan cara ku dalam memandang agama ini, akhirnya aku memutuskan untuk kuliah bersamaan dengan belajar di pondok. Sekarang aku berada di atas rooftop pondok pesantren, kini aku telah banyak belajar tentang agama islam di pondok ini. Di pondok pesantren inilah aku akan menutup semua lembaran masa lalu ku yang buruk dan membuka lembaran-lembaran masa depan dengan mushaf-mushaf Al-Quran dan sukses membanggakan kedua orang tuaku dunia dan akhirat. Terdengar suara yang memanggil namaku “Xel-Xel, ayo turun kita ada pengajian hari ini, kamu lupa?” mendengar suara itu perlahan ku buka mata ini. Suara itu datang dari bawah rooftop “Oke, sebentar bentar lagi selesai.” Jawabku sambil memberi isyarat.
“Maaf tahun baru ini anakmu tidak bisa pulang, Semoga bapak dan ibu sehat selalu di sana, jangan khawatirkan anakmu di sini. Namamu akan selalu ada dalam setiap sujud ini dan doakan anakmu agar bisa mewujudkan cita-cita dan harapan mu.” Ku tulis dalam bait sebuah doa dan harapan di buku ku ini.
Biografi Penulis
Nama saya Vira Kurniawan, saya lahir di Kota Medan tanggal 7 Juli 1997. Saya seorang laki-laki yang mempunyai dua orang saudari perempuan. Saya sekolah di SD Negeri 214/VIII Malako, SMP Negeri 3 Tebo, SMA Negeri 2 Tebo di provinsi Jambi dan sekarang saya kuliah di Depok salah satu Universitas Swasta, Yaitu Universitas Gunadarma di jurusan Teknik Elektro.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Exploring the Field of Electrical Engineering

Exploring the Field of Electrical Engineering Electrical Engineering is a versatile and highly sought-after discipline that encompasses the ...