Rabu, 07 Maret 2018

Bahasa Dan Budaya Lokal



PENGARUH PERKEMBANGAN ZAMAN TERHADAP BAHASA DAN BUDAYA LOKA BANGSA INDONESIA
Oleh: Vira Kurniawan
Peradaban Bahasa dan budaya di Indonesia tidak lepas dari peradaban-peradaban besar di dunia, ada beberapa perbedaan tolak ukur peradaban Bahasa dan budaya di dunia. Hal-hal yang mendasari perbedaan antara Bahasa dan budaya lokal di suatu daerah. Faktor mendasar terbentuknya suatu kebudayaan lokal juga tidak lepas dari adanya Bahasa di suatu daerah dan alkuturasi dari bangsa-bangsa lain, Oleh karena itu antara Bahasa dan kebudayaan lokal merupakan satu rumpun pembentuk jadi diri suatu daerah yang telah lahir sejak zaman Yunani kuno, termasuk Indonesia adalah salah satu negara yang hampir setiap wilayah dan ke pulaunya mempunyai Bahasa dan kebudayaan sendiri. Bahasa dan kebudayaan yang ada di setiap daerah merupakan identitas dari setiap suku di Indonesia dan di zaman moder yang kita rasakan sekarang, banyak faktor yang menyebabkan hilangnya jati diri suatu bangsa, baik dari segi Bahasa dan kebudayaan lokal. Negara dengan beribu pulau merupakan salah satu julukan untuk Indonesia di mata dunia, setiap pulau yang ada menyimpan keanekaragaman Bahasa dan budaya lokal, bahkan tidak hanya terpisah antara pulau satu dengan yang lainnya, sering kita temui perbedaan Bahasa dan kebudayaan lokal di satu pulau yang sama. Bahasa Indonesia merupakan Bahasa pemersatu bangsa kita sejak terngiang ikrar sumpah pemudah pada tanggal 28 Oktober 1928, dari sinilah kita sebagai negara yang mempunyai berbagai Bahasa lokal ini saling mengerti dan paham akan tujuan bangsa yang besar ini melalui Bahasa persatuan. Pakar kebudayaan barat menyatakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung ilmu pengetahuan yang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat pendapat E. B. Tylor dalam buku “primitive culture” dan pakar kebudayaan Indonesia dinyatakan oleh Prof. Dr. Koentjaraningrat bahwa kebudayaan merupakan  keseluruhan manusia dari kelakuan dan hasil kelakuan yang teratur oleh tata kelakuan yang harus didapatnya dengan belajar dan yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat. Pakar kebudayaan barat menyatakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung ilmu pengetahuan yang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat pendapat E. B. Tylor dalam buku “primitive culture” dan pakar kebudayaan Indonesia dinyatakan oleh Prof. Dr. Koentjaraningrat bahwa kebudayaan merupakan  keseluruhan manusia dari kelakuan dan hasil kelakuan yang teratur oleh tata kelakuan yang harus didapatnya dengan belajar dan yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat. Pada abad ke 20 inilah awal dari persaingan yang tidak lagi melalui otot melainkan melalui otak dimana di masa sekarang ini semua hal yang ada menggunakan akan mengedepankan teknologi yang canggih. Dari sinilah merupakan salah satu alat yang dipergunakan oleh bangsa barat untuk lebih cepat memasukan pemikirannya ke berbagai belahan dunia. Rasa cinta bahasa dan kebudayaan lokal harus selalu dipupuk disetiap kalangan generasi bangsa untuk menjaga keberlangsungan nilai-nilai luhur sebuah bangsa.
PENGARUH PERKEMBANGAN ZAMAN TERHADAP BAHASA DAN BUDAYA LOKA BANGSA INDONESIA
PENDAHULUAN
Sejarah peradaban Bahasa dan budaya di Indonesia tidak lepas dari peradaban-peradaban besar di dunia, ada beberapa perbedaan tolak ukur peradaban Bahasa dan budaya di dunia. Hal-hal yang mendasari perbedaan antara Bahasa dan budaya lokal di suatu daerah. Jika selama ini kita ketahui Bahasa dan kebudayaan lokal itu merupakan identitas yang memang lahir dari jati diri dari setia daerah itu sendiri, ternyata tidak semuanya benar. Bahasa yang kita gunakan sekarang merupakan perkembangan Bahasa pada zaman Yunani kuno sekitar abad ke lima S.M., yang terus berkembang dari zaman ke zaman melalui kajian untuk mewujudkan pemikiran manusia yang universal terhadap kehidupan yang akan berlangsung. Sedangkan budaya lokal yang kita kenal selama ini dari masing -masing daerah adalah bentuk dari kehidupan yang dijalani di satu daerah. Faktor mendasar terbentuknya suatu kebudayaan lokal juga tidak lepas dari adanya Bahasa di suatu daerah dan alkuturasi dari bangsa-bangsa lain, oleh karena itu antara Bahasa dan kebudayaan lokal merupakan satu rumpun pembentuk jadi diri suatu daerah yang telah lahir sejak zaman Yunani kuno.
Indonesia adalah salah satu negara yang hampir setiap wilayah dan ke pulaunya mempunyai Bahasa dan kebudayaan sendiri. Bahasa dan kebudayaan yang ada disetiap daerah merupakan identitas dari setiap suku di Indonesia. Lahirnya Bahasa dan kebudayaan yang kita kenal disetiap daerah tempat tinggal kita merupakan hasil dari kesepakatan yang ada melalui tingkah laku, hingga setiap Bahasa dan kebudayaan yang di hasilkan di setiap daerah berbeda antra satu dengan yang lainnya. Semua perbedaan ini adalah keberagamaan yang seharusnya kita jaga kelestariannya. Keberagaman yang ada di Indonesia menjadi lebih indah dengan adanya alkuturasi yang terjadi di setiap daerah.
Di zaman moder yang kita rasakan sekarang, banyak faktor yang menyebabkan hilangnya jati diri suatu bangsa, baik dari segi Bahasa dan kebudayaan lokal. Alkuturasi yang kita kenal tidak bisa lagi memfilter dengan baik budaya asing yang masuk ke Indonesia, sehingga yang kita alami bukanlah memperindah kebudayaan yang ada melainkan mengganti kebudayaan yang ada dengan kebudayaan baru dari negara-nagara barat, yang sejatinya berlawanan dengan kebudayaan kita sebagai orang timur.
Maka disinilah peran mahasiswa sangat dibutuhkan untuk menjaga kelestarian Bahasa dan kebudayaan lokal agar tidak tergerus dengan perkembangan zaman. Mahasiswa merupakan harapan dari negara agar bisa membawa perubaha (agen of chage) suatu bangsa menjadi lebih baik dengan tidak merubah Bahasa dan kebudayaan lokal yang telah menemani bangsa Indonesia ini hingga menjadi bangsa yang kuat seperti sekarang ini. Mahasiswa merupakan kaum terpelajar yang akan membentuk bangsa ini menjadi bangsa yang berintelektual. Oleh karena itu bangsa ini maju atau tidaknya hasil dari perbuatan kaum – kaum terpelajar yang sering kita sebut sebagai mahasiswa.
Sejarah Bahasa Indonesia terhadap Bahasa daerah
 Negara dengan beribu pulau merupakan salah satu julukan untuk Indonesia di mata dunia, setiap pulau yang ada menyimpan keanekaragaman Bahasa dan budaya lokal, bahkan tidak hanya terpisah antara pulau satu dengan yang lainnya, sering kita temui perbedaan Bahasa dan kebudayaan lokal di satu pulau yang sama. Semua ini membuktikan bahwa bangsa ini mempunyai potensial yang sangat bagus untuk menjadi titik perkembangan dunia di abad modern, karena dengan begitu banyaknya Bahasa dan kebudayaan lokal yang kita memiliki dapat menjadi salah satu contoh oleh bangsa lain untuk berkembang seperti bangsa kita yang bisa berdampingan antara Bahasa dan kebudayaan yang berbeda. Bahasa Indonesia merupakan Bahasa pemersatu bangsa kita sejak terngiang ikrar sumpah pemudah pada tanggal 28 Oktober 1928, dari sinilah kita sebagai negara yang mempunyai berbagai Bahasa lokal ini saling mengerti dan paham akan tujuan bangsa yang besar ini melalui Bahasa persatuan. Setelah ikrar terucap terbentuklah Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1997 yang berbunyi “Pendidikan dan pengajaran Bahasa Indonesia ditingkatkan dan diperluas sehingga mencapai masyarakat luas”.
Terlahirnya Bahasa Indonesia yang sekarang kita gunakan sebagai Bahasa pemersatu bangsa ini, tidak lepas dari peran penting Bahasa daerah yang kita memilih. Terlebih kita sebagai mahasiswa telah lebih banyak mengetahui dari mana Bahasa Indonesia dijadikan sebagai Bahasa pemersatu bangsa. Masyarakat Indonesia telah menjadikan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa dialog antara suku sebelum ditetapkan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa pemersatu (Nasional). Namun pada masa itu Bahasa Indonesia hanya dikenal oleh masyarakat-masyarakat yang hidupnya berada di sekitar pesisir atau perairan, karena di situlah masyarakat menjalin kehidupan antara suku yang berbeda melalui perdangangan. Bahasa Indonesia ini terlahir dari salah satu Bahasa daerah yang ada di belahan bumi bangsa ini, yaitu Bahasa melayu. Bahasa melayu dijadikan sebagai Bahasa pemersatu karena di anggap mudah dipahami oleh setiap kelompok dibandingkan dengan Bahasa daerah lainnya, salah satu contohnya Bahasa Jawa. Bahasa Jawa merupakan Bahasa terbesar di negara ini, namun bukan Bahasa jawa lah yang digunakan sebagai Bahasa pemersatu bangsa dikarenakan bahasa Jawa tidak mudah untuk dimengerti dikarenakan Bahasa jawa memiliki banyak peribahasa seperti Bahasa Jawa Ngoko dan Krama, masing-masing pengucapan dan intonasi berbeda antara satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, Bahasa pemersatu tidak dipilih berdasarkan banyaknya orang yang menggunakan bahasa pada masa itu melainkan Bahasa yang bisa di pelajari dan mudah untuk dipahami.
Bangsa ini merupakan peradaban dunia yang seharusnya kita jaga dan kita lestarikan agar tidak hilang tergerus oleh perkembangan zaman. Dengan adanya Bahasa pemersatu bangsa tidak semestinya kita enggan mempelajari Bahasa daerah (Bahasa ibu). Bahasa daerah sama dengan Bahasa Indonesia yang apabila kita menganggap bahasa Indonesia sebagai jati diri sebuah bangsa maka sudah sangat jelas bahwa bahasa daerah merupakan jati diri dari setiap suku yang ada di negara ini. Ada banyak bahasa daerah yang kita miliki dari sabang sampai merauke, setiap bahasa daerah memiliki ciri khas yang menggambarkan pola kehidupan masyarakatnya. Terkadang kita sering menemukan berbagai Bahasa yang sama bentuk katanya, namun makna dan maksudnya berbeda dan ada juga satu suku memiliki tutur kata yang berbeda, semua itu disebabkan oleh berbagai faktor seperti faktor regional, sosial, historis, profesional, dan terpengaruh oleh faktor kontak Bahasa. Semua faktor ini menyebabkan perbedaan di antara individu satu dengan yang lain walaupun masih dalam satu suku yang sama. Seperti contohnya Bahasa Jawa di pulau Jawa akan berbeda dengan Bahasa Jawa di pulau lainnya seperti Bahasa Jawa di pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papuan yang merupakan warga transmigrasi pulau Jawa.   
Oleh karena itu sebagai generasi bangsa yang mempunyai cita-cita untuk memajukan negara ini, harus tetap memperkaya Bahasa daerah dan mencegah dari kepunahan akibat perkembangan zaman. Permasalahan besar yang kita hadapi dari masa ke masa tidak akan pernah berhenti disatu titik, permasalahan ini akan terus berlanjut hingga waktu yang tidak bisa ditentukan.
Sejarah kebudayaan lokal masyarakat Indonesia
Peradaban negara ini tidak akan pernah lepas sendirinya tanpa masyarakatnya yang selalu berbudaya dan bermoral dalam memperjuangkan dan mempertahankan peradaban Indonesia. Moral yang dimiliki masyarakat menghantarkan peradaban Indonesia, yang selama ini diakui sebagai peradaban yang baik dan memiliki kebudayaan yang sangat menarik dari berbagai suku. Dari moral bangsa dapat melahirkan kebudayaan lokal berkarakter yang dihasilkan secara murni dari masyarakat di suatu daerah dan suku.
Kebudayaan dan peradaban menjadi pembicaraan parah ahli, sehingga semakin berkembang manusia maka akan semakin berkembang juga pola berpikirnya sehingga mempengaruhi dari makna kedua kata tersebut. Sampai sekarang kata kebudayaan itu sendiri mempunyai kurang lebih 160 defenisi, contohnya saja seperti kata cultuur (Bahasa Belanda), kultur (Bahasa Jerman), culture (Bahasa Inggris) dan masih banyak lagi kata yang menandakan maupun mendefenisikan makna dari kebudayaan. Secara keseluruhan kebudayaan itu lebih menekankan kepada aspek rasional dan moral. Beberapa defenisi ahli barat dan Indonesia tentang kebudayaan menjadi perwakilan dari 160 defenisi yang ada. Pakar kebudayaan barat menyatakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung ilmu pengetahuan yang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat pendapat E. B. Tylor dalam buku “primitive culture” dan pakar kebudayaan Indonesia dinyatakan oleh Prof. Dr. Koentjaraningrat bahwa kebudayaan merupakan  keseluruhan manusia dari kelakuan dan hasil kelakuan yang teratur oleh tata kelakuan yang harus didapatnya dengan belajar dan yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat. Masih banyak lagi pakar-pakar kebudayaan baik dari barat maupun Indonesia yang menyatakan seperti apa kebudayaan itu sendiri.
Kebudayaan di Indonesia sudah mengakar sejak zaman nenek moyang, kebudayaan dari masing-masing suku terlahir dan diwariskan secara turun-temurun. Warisan kebudayaan ini menjadi identitas sebuah suku bangsa dan harus tetap dilestarikan. Melestarikan kebudayaan lokal sudah menjadi tanggung jawab dari setiap generasi, karena melestarikan kebudayaan akan memudahkan orang lain mengenal sebuah sukun bangsa tersebut dengan baik.
Akluturasi merupakan penyumbang terbesar dari terbentuknya kebudayaan yang beraneka ragam. Alkuturasi kebudayaan di Indonesia terlihat dari berbagai bentuk bangunan berupa candi maupun yang berupa tarian tradisional sampai ke pementasan seperti wayang dan pertunjukan lainnya. Alkuturasi mempunyai arti bahwa percampuran kebudayaan asing dan kebudayaan lokal sehingga terbentuk kebudayaan baru tanpa menghilangkan tradisi lama. Dari pengertian alkuturasi tersebut menyatakan bahwa kebudayaan bangsa Indonesia juga ada percampuran dari kebudayaan bangsa lain, yang berarti bangsa lain juga berperan terjadinya kebudayaan baru yang ada di suatu generasi. Terjadinya alkuturasi ini diakibatkan adanya bangsa lain yang masuk ke wilayah Indonesia yang pada awalnya hanya untuk berdagang, seperti pedangang Tiangkok, Arab, Persia dan lainnya yang pernah menjajakan kakinya di bumi Indonesia. Percampuran kebudayaan ini banyak juga terjadi pada sistem kepercayaan pada waktu itu seperti agama Hindu-Budha yang percampuran dengan kepercayaan lokal, sehingga tercipta candi yang berundak-udak. Setelah kedatangan Hindu-Budha ke Indonesia datanglah bangsa Arab yang mengajarkan sistem kepercayaan percaya dengan satu Tuhan. Banyak hasil kebudayaan yang ada antara islam dengan agama Hindu-Budha yang hanya ada di Indonesia akibat alkuturasi masyarakat. Kebudayaan islam dan Hindu-Budha yang teralkuturasi seperti adanya menebar Bungan di makam saat melayat dan jika kita telusuri kegiatan itu tidak ada kaitannya dengan ajaran agama islam. Kebudayaan yang ada di Indonesia baik terbentuk melalui perundingan atau perilaku suku bangsa tertentu maupun terbentuk akibat percampuran bangsa asing yang masuk secara damai dengan cara berdagang dan masuk ke Indonesia dengan cara menjajah tanah negeri. Semua itu merupakan sebuah peradaban yang membentuk kebudayaan yang tidak akan pernah bisa dimiliki oleh bangsa mana pun di belahan bumi ini.
Bangsa Indonesia merupakan salah satu bangsa yang mempunyai filter terbaik dari seluruh bangsa yang ada di belahan bumi mana pun, terbukti bagaimana cara bangsa ini memilih kebudayaan asing mana yang mana yang akan bersandingan atau yang lebih cocok dengan kepribadian bangsa Indonesia. Banyak dari bangsa asing yang masuk ke negeri ini, diantaranya adalah kebudayaan bangsa barat. Semua perilaku dan perbuatan orang-orang barat bertentangan 360 derajat dengan negara Indonesia yang kebudayaannya cenderung ke Timur Tengah. Nenek moyang bangsa Indonesia memfilter apapun yang masuk untuk diambil kebaikannya dan ditinggalkan keburukannya sehingga yang kita ketahui sekarang adalah hasil alkuturasi kebudayaan bangsa Indonesia yang sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia. Setiap suku yang tinggal di belahan bumi Indonesia memiliki kebudayaannya masing-masing yang menggambarkan atau mencirikhaskan adat istiadat suatu suku.
Kebudayaan suatu suku memiliki cerita dan filosopi tentang perjalanan suatu bangsa dari mulai terbentuknya hingga menjadi sebuah kenangan yang harus diabadikan. Melalui kebudayaan inilah sebagai generasi penerus bangsa bisa lebih mengenal siapa dan dari mana dia berasal. Dengan mengetahui kebudayaan dari masing-masing suku yang ada, maka tanpa kita sadari kita telah berupaya mempertahankan adanya keberadaan kebudayaan tersebut, apalagi jika sebagai generasi penerus bangsa ini kita ikut mempelajari dengan baik kebudayaan maka bisa dipastikan kebudayaan yang kita punyai tidak akan pernah tergerus oleh perkembangan zaman.
Penyebab punahnya Bahasa dan kebudayaan lokal
Generasi milenium, masa dimana zaman yang sedang kita geluti, masa yang akan mengalami perubahan dari masyarakat sedang ke masyarakat modern. Pada abad ke 20 inilah awal dari persaingan yang tidak lagi melalui otot melainkan melalui otak dimana di masa sekarang ini semua hal yang ada menggunakan akan mengedepankan teknologi yang canggih. Alvin Toffeler menulis bahwa di masa yang akan datang pada abad ke 21 merupakan dimana masa teknologi sangat canggih akan tersebar luas di seluruh dunia. Sehingga jika semua itu terjadi maka setiap orang tidak perlu pergi ke kantor untuk bekerja cukup di rumah untuk menyelesaikan pekerjaannya. Pengaruh teknologi yang sangat canggih terhadap bahasa dan kebudayaan lokal menjadi sektor utama, karena dari situlah semua yang ada dapat muda diakses dan diperlihatkan dikalangan umum dan usia. Dari sinilah merupakan salah satu alat yang dipergunakan oleh bangsa barat untuk lebih cepat memasukan pemikirannya ke berbagai belahan dunia.
Beberapa teknologi sekarang ini yang berperan aktif dalam penyebaran paham kebudayaan barat dan kebudayaan-kebudayaan lain yang tak sejalan dengan kebudayaan indonesia diantaranya, yaitu media masa. Media yang akan saya bahas tidak semuanya karena media masa yang kita ketahui sekarang ini begitu banyak, beberapa media masa yang akan saya bahas diantaranya televisi dan internet.
Televisi merupakan salah satu media masa yang ada hingga di setiap pelosok daerah atau bisa dikatakan masyarakat indonesia rata-rata memiliki yang namanya televisi. Televisi adalah media hibur sebagai penghilang rasa penat setelah bekerja. Peran televisi sebagai media hibur akhir-akhir ini sedikit berubah akibat terlalu bebasnya media televisi mempublikasikan berbagai adegan yang mestinya tidak pantas diperlihatkan di muka umum. Adegan-adegan ataupun perilaku yang ditampilkan dalam layar televisi yang mestinya hanya untuk tontonan serang sudah berubah menjadi tuntunan begitu juga sebaliknya yang seharusnya dijadikan tuntunan berubah menjadi tontonan. Salah satu contohnya kostum yang digunakan dalam adegan-adegan sinetron yang bertentangan dengan adat istiadat kebudayaan lokal dan agama menjadi tuntunan generasi mudah zaman sekarang dan sebaliknya yang seharusnya kebaikan-kebaikan untuk menjalankan syariat agama merupakan tuntunan di jadikan sebuah tontonan, karena sejatinya agama apapun yang ada di dunia tidak pernah mengajarkan kepada pemeluknya untuk menjadi tidak benar dan tidak bermoral. Dari sinilah awal mulanya bibit-bibit virus perusak generasi ditebarkan yang menyebabkan lunturnya kebiasaan baik dari setiap suku yang telah lama ditanamkan di setiap kebudayaan. Dampak perilaku seperti itu dapat membuat para generasi tidak lagi peduli dengan kebudayaan dan yang lebih parahnya generasi muda lebih memilih kebudayaan baru untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-harinya dan meninggalkan kebudayaan lama hanya agar terlihat keren dan mengikuti perkembangan zaman dan tren saat ini.
Perkembangan dunia pada zaman sekarang ini dapat kita saksikan secara langsung setiap detiknya dengan media masa yang sering kita kenal dengan nama internet. Internet yang kita gunakan setiap harinya merupakan media masa yang sangat berpengaruh dengan semua kegiatan yang ada pada saat ini, karena semua kegiatan rata-rata pada zaman sekarang sangat tergantung dengan internet, banyak sekali yang disajikan oleh internet di berbagai segi dan elemen dunia. Dibandingkan dengan televisi, internet merupakan media masa yang sangat tidak bisa dibendung penggunanya. Banyak hal yang perlu diperhatikan dari media masa yang satu ini, karena d dalamnya banyak sekali mengandung hal-hal yang lebih negatif lagi dari televisi walaupun tidak menutup kemungkinan internet adalah sumber untuk menutup ilmu lebih banyak akan tetapi media internet sering sekali disalah gunakan oleh pengguna. Penyalahgunaan media masa oleh generasi muda dapat membuat efek yang sangat fatal. Apabila semua ini tidak segera diatasi maka akibatnya akan membuat generasi penerus bangsa yang seharusnya mempunyai moral dan nilai-nilai kebangsaan akan sedikit demi sedikit hilang dengan sendirinya.
Peran kedua orang tua di sini sangat diperlukan karena pembentuk kepribadian anak itu dimulai dari kecil dan kedua orang tua lah yang sangat bertanggung jawab untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan, kebudayaan dan bahasa lokal selain bahasa indonesia dan bahasa penunjang lainnya seperti bahasa inggris. Di zaman modern sekarang ini kebanyakan orang tua terlalu obsesi dengan bahasa asing, sehingga tidak jarang dari kedua orang tua lupa mengajarkan bahasa daerahnya kepada anaknya. Akibatnya anak tidak pernah tau dan tidak mengerti bahasa daerahnya serta cara mengucapkan bahasa daerahnya. Selain mengajarkan anak tentang bahasa dan kebudayaan, kedua orang tua juga harus selalu menjaga dan mengamati anak tentang semua media sosial yang ada tanpa membatasi anak untuk berkembang mengikuti perkembangan zaman dan agar tetap sejalan dengan moral bangsa indonesia. Sebenarnya penyebab kepunahan bahasa dan kebudayaan yang telah dibahas tidak hanya terjadi di satu generasi, dari anak-anak hingga orang tua juga sudah banyak yang mengalami hal yang sama akibat perkembangan zaman.
Rasa cinta bahasa dan kebudayaan lokal harus selalu dipupuk disetiap kalangan generasi bangsa untuk menjaga keberlangsungan nilai-nilai luhur sebuah bangsa. Mahasiswa merupakan tonggak awal pembawa perubahan karena mahasiswa mempunyai peran penting dalam membawa perubahan yang besar terhadap sebuah bangsa. Masyarakat pada umumnya menjadikan mahasiswa sebagai tolak ukur suatu bangsa berkembang atau tidaknya dan tetap mengedepankan cinta terhadap bahasa dan kebudayaan lokal. Sebagai mahasiswa yang mempunyai peran penting terhadap hal ini dan selalu mempunyai pemikiran kritis terhadap berbagai bidang, kita sebagai mahasiswa tidak bisa tinggal diam melihat masa depan bangsa kita tidak terarah dalam segi moral maupun kebudayaan. Banyak sekali yang bisa dilakukan oleh mahasiswa untuk melestarikan bahasa dan kebudayaan lokal, salah satunya mencari metode baru yang lebih menarik untuk mempelajari bahasa dan kebudayaan lokal agar masyarakat tertarik untuk mempelajarinya. Dengan perkembangan teknologi yang tidak bisa dibendung lagi sebenarnya jika kita bisa memanfaatkan peluang dengan benar di era sekarang ini, kita bisa menjadikan teknologi ini sebagai sarana utama untuk menarik minat masyarakat indonesia agar mau mempelajari bahasa dan kebudayaan lokal. Perkembangan teknologi tidak bisa kita hindari lagi, oleh karena itu kita harus bisa berfikir bagaimana kita bisa menciptakan hal yang baru menggunakan teknologi yang kian hari berkembang tanpa harus menghilangkan teknologi dalam kehidupan.

DAFTAR PUSTAKA
Bloomfield, Leonard, Noor Ein Mohd. Noor (Penterjemah). 1992. Bahasa. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kemenrtian Pendidikan Malaysia
Purwoko, Herudjati dan Ignatia M. Hendrarti. 2004. Rekayasa Bahasa dan Sastra Nasional. Semarang: Penerbit Masscom Media.

Kongres Kebudayaan. 1991. Daya Cipta dan Perkembangan Budaya. Penerbit Kebudayaan Kita Kemarin Kini dan Esok.

Mimpi dan Harapan



SUARA DIBALIK KERINDUAN
Kenyataan yang tak seindah harapan, inilah yang aku rasakan sekarang. Aku selalu berharap hidupku ini lebih beruntung dari orang-orang yang ada di dekatku dan yang baru aku kenal beberapa menit yang lalu. Namun faktor lain lah yang membuat harapan ini tidak akan pernah menjadi kenyataan. Aku bingung dengan kehidupan ini, rasanya keberuntungan selalu ada di dekatku tetapi pada kenyataannya masih lebih banyak orang yang lebih beruntung bila dibandingkan denganku dan jika dikatakan akulah manusia yang sangat tidak beruntung ternyata masih lebih banyak orang diluar sana yang hidupnya lebih tidak beruntung. Dunia ini begitu banyak cerita dan skenario kehidupan yang tak bisa tergambar dengan jelas jalan ceritanya, namun percayalah dibalik cerita dan skenario yang sedang kita jalani sekarang. Di situlah kunci dari harapan dan mimpi kita untuk mengapai dan mendapatkan peran kehidupan sebagai modal agar bisa mengukir sejarah dalam hidup.
Pemuda desa dengan postur tinggi badan 165 cm berambut keriting dan berkulit sawo matang itulah aku, seorang pemuda yang tinggal di desa terpencil dan amat jauh dari pusat kota, kami memanggil desa itu dengan sebutan Desa Brandan. Bisa dibayangkan akses masuk ke desa yang terpencil dan jauh dari pusat kota pasti tak semudah dan secepat akses di perkotaan yang hanya hitungan menit. Untuk menuju desa waktu yang dibutuhkan bisa sampai hitungan jam bahkan hitungan hari dari pusat kota, itu pun harus ditempuh dengan berjalan kaki jika hari hujan. Desaku terletak di bawah Taman Bukit Tiga Puluh Provinsi jambi, meskipun disebut taman tetap saja yang namanya hutan ya hutan yang di dalamnya banyak binatang buas tidak seperti taman-taman di kota yang bisa untuk liburan santai. Tidak ada yang boleh masuk ke dalam hutan tanpa pengawasan pihak yang berwajib walaupun terkadang ada juga yang masuk ke hutan tanpa izin dari pihak yang berwajib, ya seperti itulah kebiasaan orang Indonesia pada umumnya.
Di atas rooftop diantara kursi kosong, aku menantikan hangatnya sinar mentari yang kian menyingsing dari ufuk timur. Seakan tergambar manis dan indahnya hari ini dari balik dinginnya pagi yang disertai dengan rasa rindu. Sebuah pena hitam yang terlilit benang abu-abu dan kertas putih tanpa noda bersedia menjadi wadah kerinduan serta kehangatan di masa lalu ku. Pagi ini rasa nyaman menghampiriku, mata ini perlahan ku pejamkan dan sedikit demi sedikit teringat kenangan masa lalu.
Axel itulah nama panggilanku, aku dibesarkan di desa dengan kultur maupun adat istiadat yang berlaku dan selalu bersanding dengan agama yang dianggap penting dalam kehidupan ini. Aku terlahir bukanlah dari keluarga orang kaya dan bukan dari ekonomi yang lebih diatas rata-rata, orang tua ku seorang petani padi, beliau berusaha sekuat tenaga agar anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan hingga sukses nanti. Sebagai seorang anak aku tidak menyadari bahwa setiap hari aku selalu dimarahi karena kelalaian dan kenakan, itu semua karena mereka sayang dan perhatian padaku. Terkadang aku selalu menganggap orang tuaku tidak seperti orang tua teman-temanku yang selalu memanjakan anak-anak mereka setiap harinya, aku selalu berpikiran kalau aku adalah anak tiri sehingga selalu di marah setiap waktu padahal ini semua adalah proses belajar dalam kehidupan.
Waktu terus berjalan masa kanak-kanak ku telah lewat, kini aku mengajak ke masa pubertas atau remaja. Aku mulai sedikit mengerti kenapa hidup harus diperjuangkan dan kenapa hidup itu harus ada pilihan. Sekarang aku akan melanjutkan sekolah di tingkat SMP, karena pada waktu SD aku merasa lebih pintar dari pada yang lain, aku lebih memilih sekolah keluar dari desa meskipun di desaku sudah ada sekolah baru. Waktu itu, aku meminta kepada ibu ku.
“Mak, besok setelah aku lulus sekolah, aku mau sekolahnya ke luar desa yang lebih enak sekolahnya.”
“La kenapa tidak sekolah di sini aja? Kan uda ada sekolah baru.”
“Enggak mau, kalau misalnya sekolah di sini percuma, mendingan gak usah sekolah.”
“La kenapa kan sama-sama sekolah?”
“Pokoknya kalau sekolah di sini, mendingan gak usah sekolah.” Pergi meninggalkan ibu
Sebagai anak yang hanya bisanya meminta, tanpa harus tahu apa akibatnya dan tidak mengerti bahwa semua keputusan itu harus dipertimbangkan dengan matang. Apalagi aku anak laki satu-satunya di keluarga, ditambah lagi ke dua saudariku sekarang sudah ada yang berkeluarga dan sudah ada bakal calon suaminya. Berarti setelah aku pergi nanti yang membantu kegiatan rumah dan yang lainnya tidak ada. Semenjak kejadian itu aku tidak mau membahas tentang permintaanku itu.
Malam ini ketika semua keluarga berkumpul kecuali saudariku yang pertama, dia tidak bisa berkumpul seperti biasa karena sudah berkeluarga dan tempat tinggalnya juga sangat jauh. Seperti biasa malam ini kami bersantai dan bercanda ria layaknya keluarga kecil yang bahagia. Di saat itulah aku berpikir apakah keluarga ini akan seperti ini terus selalu bercanda bersama dan selalu seperti ini untuk selamanya. Terkadang aku bosan dengan keadaan yang aku jalani sekarang, tidak ada perkembangan dan selalu berada di titik tanpa perubahan, ini lah aku anak kecil yang tidak tahu apa-apa dan hanya bisa mengelu tanpa menikmati waktu yang ada bersama keluarga tercinta.
“Xel, gimana bentar lagi kan lulus sekolah, mau ngelanjut ke mana?”
            Pertanyaan itu keluar dari ucapan bapak yang ternyata sudah mendengar permintaan ku dari ibu. Aku bingung mau jawab apa, karena aku takut kalau misalnya aku bilang mau sekolah jauh dan tidak mau sekolah jika harus sekolah di desa.
“Kalau boleh sih sekolah di pulau Jawa.” Jawabku
“Yakin mau sekolah ke sana? Memang ada siapa di sana? Di sana tidak ada keluarga dan tempatnya jauh nanti kalau ada apa-apa susah hubunginya.”
“Sekolah di sini aja, bisa bantu ibu bapak jadi gak terlalu repot dan biaya sekolah juga gak terlalu mahal.” Dengan santai kakak ku memberi argumen
“la biar la anaknya mau sekolah mana, asalkan bener.” Ibuku mendukung dengan berat hati.
“Gini aja, sekolahnya gak usah di jawa, di Rimbo aja, di sana ad kenalan bapak jadi gampang kalau mau ngubungi kalau ada apa-apa dan kalau nanti kamu mau terus lanjut sekolahnya ya terserah kalau mau Ke Jawa.” Ayah ku memberikan solusi dangan mempertimbangkan segala hal.
Dari situlah aku mulai tersenyum, aku tidak lagi tinggal di desa yang jauh dari keramaian bahkan semua fasilitas umum dan negara belum ada satu pun di desa ini kecuali rumah adat dan masjid yang kecil. Tanpa aku sadari ternyata untuk memutuskan aku pergi sekolah keluar desa itu ternyata sangat berat untuk kedua orang tuaku, meskipun tidak di ucapkan oleh mereka namun terlihat diraut wajah beliau ketika melepaskan ku pergi.
Setelah lulus SD aku di antar mendaftar sekolah ke Rimbo. Rimbo merupakan kota kecil yang berada dekat salah satu kabupaten di Jambi dan jarak dari desa ke rimbo bisa di tempuh sekitar 4 jam perjalanan menggunakan kendaraan roda dua, meskipun kota ini tidak seperti kota-kota yang ada di pulau Jawa namun di sinilah harapan ku akan terukir mulai detik ini. Dari segala urusan tentang sekolah baru ku, orang tua ku lah yang mengurus segalanya dan disaat aku diterima di salah satu sekolah yang bisa di bilang favorit di kota itu aku dititipkan di rumah salah satu orang yang di kenal oleh ayahku dan berharap sampai lulus bisa di jaga di sana. Satu semester telah berlalu dan selama itulah aku tinggal di rumah yang sering aku sebut paman, aku merasa tidak bebas di sini. Segala sesuatu yang aku lakukan selalu diawasi dan yang paling tidak aku sukai disuruh membantu pekerjaan rumah dan perkebunan. Sebenarnya itu semua bagus untuk ku, semua yang disuruh di rumah paman itu untuk proses aku bagai mana cara belajar kita hidup di dunia. Namun, karena aku merasa tidak nyaman lagi, waktu aku pulang pada saat liburan aku meminta untuk tinggal di tempat kos dengan alasan bisa belajar dengan tenang tanpa gangguan. Walaupun awalnya berat untuk mengizinkan, akhirnya kedua orang tua menyetujui permintaanku.
Kehidupan kos, di sinilah awal mula aku menyadari bahwa hidup itu tidak akan selalu berjalan seiring dengan ke inginan kita, namun tetap saja aku adalah sosok individu dengan sifat ego yang tinggi. Hidup di dunia akan selalu disuguhkan dengan berbagai pilihan, setiap pilahan akan menuntut kita untuk selalu konsisten entah itu pilihan dalam hal yang baik maupun ke dalam hal yang buruk. Kini aku merasa dunia ini milikku seorang, aku berpikir bahwa jika tidak ada aku di dunia maka kehidupan tidak akan berjalan sampai sekarang. Berawal dari sifat-sifat yang ada dalam diriku ini, aku mulai mengenal dunia remaja. Dunia remaja mengajarkan ku hal yang belum pernah aku alami, seperti halnya pacaran, berbohong, membelanjakan uang jajan untuk hal-hal yang tidak penting dan hampir membakar rumah orang.
Kehidupan ini terus berlanjut seiring berjalannya waktu, setelah melewati kehidupan masa-masa SMP yang tidak tertata dengan baik, kini aku berada di masa SMA dan masih dalam koridor sekolah favorit di daerah. Di sinilah harapan hidup yang sesungguhnya dalam diriku mulai muncul dan membawa pola pikir ini menjadi tenang ketika berada di dekatnya. Aku mulai mengenal dia satu bulan setelah kegiatan proses belajar di sekolah aktif, dia wanita yang menurut orang biasa-biasa saja tetapi bagiku dia wanita yang luar biasa dan istimewa di mataku. Wanita satu ini mempunyai paras yang manis, bola mata biru kehitaman menambah keteduhan jika memandangnya dan ditambah lagi dia mengenakan hijab bak bidadari surga yang turun ke bumi. Dia lulusan MTS ternama di Kota Padang, pekerjaan orang tuannya lah yang menuntut dia harus bersekolah di kota kecil ini. Perjalanan hidup ini terasa ringan, ketika setiap hari aku melihatnya di sekolah dan kini aku mulai sedikit mencari perhatiannya. Selama tiga minggu aku mencari cara dekat dengan dia dan sekarang aku sering pulang pergi sekolah dengannya. Apalagi berpamitan dengan orang tuanya jika mau berangkat sekolah dan keluar bersama hanya untuk menghilangkan pusing dengan tugas-tugas sekolah. Setelah sekian lama berjalan berdua tanpa ikatan, hari ini aku dan dia mulai resmi berpacaran yang berarti kami saling mengikat perasaan ini dengan status pacaran. Seperti biasa setiap hubungan pasti ada manis dan ada pahitnya, baik itu dari aku dan dia maupun perkataan orang lain ke kami tentang hal-hal yang negatif. Padahal selama kami belum resmi berpacaran hingga sekarang menjalin hubungan kami tidak pernah melakukan hal-hal negatif seperti anggapan orang-orang, bedah halnya dengan aku yang dulu yang suka mempermainkan wanita seenaknya. Sekarang aku berubah, aku lebih menghargai wanita yang aku sayangi seperti aku menyayangi ibunda tercinta, karena wanita yang aku kenal sekarang ini telah memperlihatkan rasa sayang yang sebenarnya sehingga aku bisa merasakan semua perasaan manusia terutama wanita.
Hilangnya sipat jelek ku yang dulu mempengaruhi semua pergaulan ku, membuat teman-teman yang dulu ada dan selalu bersenang-senang bersama kini tidak pernah lagi menampakkan wajah-wajahnya di hadapanku, mereka lebih memilih menjauhi ku. Kini aku berubah total menjadi anak yang lebih baik dari dulu, memulai belajar agama dari awal dengan baik karena terinspirasi. Lembaran baru telah aku buka, semua terasa mengulangi hidup dari awal dengan hal-hal yang positif, semua itu karena dia yang telah membuat hidup ini berubah.
Mala ini, kami jalan berdua seperti biasa menghilangkan rasa lelah seharian di sekolah. Di tempat makan yang sederhana ini, kami selalu berbagi cerita dan meracang kehidupan di masa depan. Malam ini suasana terasa dingin, di temani kopi hangat kami bercanda tawa dan pada akhirnya dia berkata.
“Ini ada hadiah buat kamu.” Mengulurkan sebuah kotak
“Hadiah? Kok gak biasa-biasanya? Ini tanggal berapa si.? Kan juga bukan ulang tahun ku.” Sambil aku ambil
“Uda buka aja dulu, itu hadiah buat kamu.”
“Oke aku buka ya, waaw apa an ni? Jam tangan.” Tersenyum bahagia.
“Iya. Itu untuk mengingatkan kamu di setiap waktu biar gak lupa sholat dan mengingatkan tentang diriku.” Mulai berkaca-kaca
“Maksudnya?” aku mulai bingung dengan perkataanya.
“Aku rasa hubungan kita sampai sini aja ya. Kalau memang kita jodoh akan ada masanya kita berjumpa lagi.”
“Entar kamu ada masalah apa? Cerita jangan seperti ini.”
“Uda cukup, tidak ada lagi yang perlu dibahas dan terima kasih uda menghiasi hati ini.” Menangis dan memalingkan diri lalu pergi pulang
Malam itulah terakhir aku bertemu dengannya dan berbicara, setelah kejadian malam itu dia begitu susah di temui baik di sekolah maupun di rumahnya bahkan teman nya juga tidak mau memberi tahu apa penyebab semua ini. Jam tangan hitam dihiasi dengan sedikit warna merah inilah yang sekarang menemani aku menggantikan dia. Aku bingung dengan sikapnya malam itu, apa salahku sehingga dia memilih untuk mengakhiri hubungan ini. Berbagai pertanyaan silih berganti datang menghampiri isi kepala ku, hingga membuatku lupa dengan pesan terakhir yang dia ucapkan “Jika kita jodoh akan bertemu suatu hari nanti”. Semua sikap itu mempengaruhi cara belajar ku, nilaiku mulai merosot semester ini dan aku merasa terpukul dengan semua kejadian malam itu.
Jam ini membuatku sadar, bahwa waktu tak akan pernah terulang. Waktu akan terus berjalan tanpa memandang apa yang telah ia lewati. Jarum silver yang memutar di jam ini menandakan bahwa waktu esok akan datang dengan semangat baru dan harus dihadapi dengan senyuman. Mulai hari ini aku putuskan aku tidak akan pernah pacaran hingga tiba saatnya aku dipertemukan dengan jodoh ku yang sebenarnya. Jam ini menjadi saksiku untuk selalu istikomah di jalan sang ilahi, memperbaiki iman dan amal agar kelak aku mendapat pendamping yang seiman dan layak untuk diperjuangkan.
Sekian lama aku melewati masa remaja dan masa-masa yang ada dalam hidup ini, kini aku berada di Jakarta dengan penampilan ku yang akan menuju dewasa. Di sini dan tahun inilah awal aku memijakkan kaki di pulau Jawa, meninggalkan kedua orang tua dan kampung halaman begitu jauh. Cita-citaku sekolah di Jawa kini terwujud hari ini, aku diterima di salah satu Universitas yang ada di depok. Sebelum aku berangkat menujuh tempat perkuliahan ku, kedua orang tuaku berpesan begitu banyak kepadaku salah satu pesan beliau “Nak ingat, hidupmu masih panjang, jangan sia-siakan waktu yang kamu punya.” Itulah salah satu motivasi ku bisa kuat menginjakkan kaki di pulau yang keras akan kehidupannya dan padat dengan penduduknya ini. Ternyata aku baru tahu dari saudari perempuanku yang pertama, aku bisa menginjakkan kaki dan kuliah di sini karena dari sewaktu aku SD kedua orang tuaku susah payah menabung uang untuk mewujudkan cita-citaku dari kecil, saudariku berpesan “Jangan sia-siakan pengorbanan bapak dan ibu, jadilah anak yang membanggakan karena kamulah satu-satunya harapan mereka” dan akhirnya hari ini pun tiba. Dari situlah perjalanan kaki ini semakin berat untuk menuju ke finis karena begitu banyak beban yang harus aku bawa namun berkat semua dukungan kedua orang tua dan keluarga-keluargaku di sana aku selalu bangkit dari segala cobaan.
Di Depok aku tidak hanya belajar saat di perkuliahan saja, untuk memperdalam iman dan cara ku dalam memandang agama ini, akhirnya aku memutuskan untuk kuliah bersamaan dengan belajar di pondok. Sekarang aku berada di atas rooftop pondok pesantren, kini aku telah banyak belajar tentang agama islam di pondok ini. Di pondok pesantren inilah aku akan menutup semua lembaran masa lalu ku yang buruk dan membuka lembaran-lembaran masa depan dengan mushaf-mushaf Al-Quran dan sukses membanggakan kedua orang tuaku dunia dan akhirat. Terdengar suara yang memanggil namaku “Xel-Xel, ayo turun kita ada pengajian hari ini, kamu lupa?” mendengar suara itu perlahan ku buka mata ini. Suara itu datang dari bawah rooftop “Oke, sebentar bentar lagi selesai.” Jawabku sambil memberi isyarat.
“Maaf tahun baru ini anakmu tidak bisa pulang, Semoga bapak dan ibu sehat selalu di sana, jangan khawatirkan anakmu di sini. Namamu akan selalu ada dalam setiap sujud ini dan doakan anakmu agar bisa mewujudkan cita-cita dan harapan mu.” Ku tulis dalam bait sebuah doa dan harapan di buku ku ini.
Biografi Penulis
Nama saya Vira Kurniawan, saya lahir di Kota Medan tanggal 7 Juli 1997. Saya seorang laki-laki yang mempunyai dua orang saudari perempuan. Saya sekolah di SD Negeri 214/VIII Malako, SMP Negeri 3 Tebo, SMA Negeri 2 Tebo di provinsi Jambi dan sekarang saya kuliah di Depok salah satu Universitas Swasta, Yaitu Universitas Gunadarma di jurusan Teknik Elektro.

Exploring the Field of Electrical Engineering

Exploring the Field of Electrical Engineering Electrical Engineering is a versatile and highly sought-after discipline that encompasses the ...