TAK SEMERAH DARAH
Aku selalu mengatakan. Bukan
mereka yang membuat semua ini berubah. Bukan mereka yang menjadikan mimpi ini
terhenti dan bukan mereka yang membuatku selalu teringat dengan masa lalu. Aku
punya cara pandang dan pemikiran yang berbeda, aku bukan mereka.
Terlahir sebagai satu-satunya
lelaki di keluargaku menjadi sebuah tanggungan yang besar. Akulah harapan dari
setiap doa-doa orang tuaku bahkan bisa jadi akulah harapan dari miliaran napas
yang mengalun-alun setiap harinya di dunia ini. Aku tidak seperti mereka yang
terlahir enak dalam hangatnya malam ataupun pagi. Aku bukan seperti mereka yang
selalu mendapatkan apapun keinginan mereka. Tidak seperti mereka anak yang
tidak mau mengerti hidup yang sesungguhnya.
Perkenalkan aku Harad Haremes Kat, sebuah nama yang di
berikan orang tua ku di saat wujud ku terlahir di dunia ini. Nama yang panjang
dan aneh. Nama yang hanya orang tuaku lah yang tahu arti dari setiap kata-kata
itu. Kata orang tuaku, aku bisa hidup sampai sekarang ini sudah bersyukur. Dulu
sewaktu aku kecil hampir tidak bisa tertolong karena waktu itu aku terkena
penyakit gatal yang aneh dan tidak ditemukan obatnya. Aku belum bisa berpikir
waktu itu apakah hidupku akan berakhir saat itu juga atau tetap berlanjut untuk
menorehkan catatan-catatan baru di setiap lembar kehidupan. Aku tidak bisa
membayangkan betapa lelahnya perjuangan kedua orang tua ku untuk menemukan obat
demi anaknya. Dari pengobatan herbal hingga ke orang-orang yang dipercaya
sebagai sesepuh kampung. Biasa zaman dulu belum ada dokter yang bertugas di
pedalaman hutan seperti itu, jadi kami lebih suka memanfaatkan alam sekitar
yang kami percaya waktu itu.
Hampir lupa, aku tinggal di
dekat gunung tertinggi di pulau jawa ini. Pastinya pada tahu gunung apa yang
tertinggi di pulau jawa. Iya itu dia Maha Meru gunung yang menjadikan
setiap orang cinta dan berlomba-lomba eksis
di puncak gunung. Ya karena siapa lagi kalau bukan karena mereka “5 cm”. Entah benar atau tidak di dalam
setiap adegan yang mereka lakukan itu. Tetapi mereka berhasil menghipnotis
orang-orang yang dulunya tak pernah kenal menjadi kenal dengan namanya mendaki
gunung.
Sekarang aku tak tinggal di
tanah kelahiranku. Aku memberanikan langkah kaki ini melangkah lebih jauh dari
biasanya. Aku merantau ke tanah orang untuk mencari ilmu dan pengalaman hidup
baru. Tanah yang aku pijak sekarang dan tepat persis bangunan yang menjulang
tinggi di depan ku ini. Merupakan saksi dari setiap perjuangan dalam
memperebutkan kemerdekaan nagara ini. Ini adalah pertama kalinya aku
menginjakkan kaki di sini. Terasa bangga masih bisa menyaksikan peninggalan
sejarah yang masih terawat sampai sekarang. Kota tua sapaan yang melekat di
setiap masyarakat yang mengenalnya. Kini saatnya aku tuk mengenal dia sang
saksi perjuangan para pahlawan. Kaki ku mulai melangkah mendekati salah satu
bangunan. Aku tak tau nama bangunan itu, tetapi yang pasti itulah tujuan awal
ku.
Jam tangan ku menunjukkan
pukul sembilan tepat, matahari mulai menari-nari di atas sana. Sedikit berkeringat
sambil membawa minuman dingin aku terus melangkah menuju tempat teduh di gedung
itu. Satu dua kali aku berpapasan dengan turis-turis mancanegara. Senang,
sedikit bangga bisa melihat mereka secara langsung. Masih ada rasa segan untuk
mengajak mereka sekadar photo bersama. Terdengar samar-samar dari kejauhan
seseorang memanggil namaku. Tadinya si aku kira bule-bule itu yang memanggil
namaku. Uda berharap, eh ternyata bukan.
Nah itu dia yang aku
tunggu-tunggu dari tadi. Perkenalkan dia yang sedang berjalan ke arah ku namanya
Wawan. Seperti biasa nama itu menunjukkan identitas dari mana dia berasal.
Tetapi kali ini nama itu bukan menunjukkan dari mana dia berasal, kebanyakan
nama Wawan berasal dari suku Sunda. Dia bukan, sedikitpun dia tidak ada dara sunda.
Dia berasal dari seberang pulau sana. Nama pulaunya Sumatra. Salah satu pulau
yang ada di negeriku, yaitu Indonesia. Kami sama-sama anak perantauan. Bedanya
dia menyeberangi lautan kalau aku masih di pulau yang sama hanya dari desa ke
kota yang sangat padat ini dan bedan nya lagi aku tidak sekeras dia. Maksudnya
keras, yaitu semua percakapan dan tindakannya terlalu banyak perhitungan kalau
sudah mengambil keputusan tidak mau mundur, itu dan ini harus ada aturannya
tetapi dia orangnya super menyenangkan, teman yang bisa dibilang saudara
perjuangan di perantauan. Kota dengan lautan manusia dimana-mana. Kota dengan
semua kesibukan menjadi satu. Kota dengan kehidupan tanpa tidur 24 jam di setiap
harinya. Inilah dia Jakarta wajah dari negeriku, kata orang-orang sekarang kami
berdiri tepat di pusat kotanya. Ternyata seperti ini kota yang selalu menjadi
tujuan banyak orang dari penjuru pelosok. Banyak sekali kalau disuruh bercerita
tentang Indonesia. Bisa berjilid-jilid buku yang akan terbit tentang Indonesia.
“Woy,
kenapa?” Memperhatikan aku
“Enggak ada. Lama banget lu? Gue
dah hampir habis satu botol minum ni.” menunjukkan botol minum
“ Hehehe, sorry tadi ada kendala sedikit, ayo masuk.” menunjuk ke arah
pintu
Sambil melangkahkan kaki aku
merasa sebal dengan tingkahnya, pasti kalau ada kegiatan apapun dia tidak
pernah tepat waktu. Selalu saja telat dan dia pasti punya alasan untuk semua
itu, dasar menyebalkan. Walaupun dia menyebalkan dia adalah teman yang sangat
baik, teman yang mengerti akan keadaan teman yang lainnya. Tetapi sebelum kami
berteman atau bersahabat seperti saat ini, ada hal yang tidak mengenakan diantara
kami. Kami saling membenci satu dengan yang lain. Dengan sifat ku yang angkuh
dan sifat dia yang tak peduli. Ditambah lagi dengan kultur kami yang berbeda,
menyulut bara api yang membara diantara kami.
Kejadiannya satu tahun yang
lalu, tepatnya di comuter line atau
kereta api listrik JABODETABEK. Waktu
itu aku baru sampai di Jakarta. Stasiun Pasar Senin merupakan stasiun pertama
aku menginjakkan kaki di tanah Betawi, rasa bangga itu datang dalam diri ini
namun juga diiringi dengan rasa takut yang selalu menghantui karena tidak ada satu
pun orang yang aku kenal di tanah Betawi ini, kedua orang tua ku juga tidak
ikut menghantar ku ke Jakarta. Keberanian lah yang selalu mendorong ku untuk
terus melangkah dan melangkah. Bingung mau ke mana lagi, akhirnya aku bertanya
kepada petugas stasiun kereta arah tempat yang akan ku tuju. Sekarang sudah
hampir 25 menit naik kereta menuju alamat yang aku pegang ini, awalnya aku
menikmati perjalanan ini meskipun dari tadi berdiri. Beberapa menit terdengar
suara yang menandakan kereta api berhenti di salah satu stasiun, yaitu Stasiun
Manggarai. Perhatian ku tertuju ke luar kereta yang dipenuhi lautan manusia.
Pintu kereta perlahan terbuka dan seketika itu juga lautan manusia berebut
masuk ke dalam kereta melalui pintu-pintu kecil itu. Sadis, tidak ada
sedikitpun ruangan yang tidak terlihat padat dan aku terhimpit di antara
gerombolan manusia yang tak ku kenal. “ Waduh
!, mata tu dimana? Liat dong. Kau pijak kakiku ni.” suara itu menghentikan
hiruk pikuk di sekitar ku dan aku heran kenapa pandangannya mengarah ke wajah
ku. Ternyata aku tidak sengaja menginjak kaki orang yang di depan ku, ya memang
sedikit kuat hentakan kaki ku yang mengarah ke lantai di karena kan sebal
dengan kondisi ku sekarang, sungguh di luar dugaanku hal seperti ini dan aku
tidak tau kalau itu bukan lantai melainkan kaki orang “ Ya sorry aku gak tau, soalnya terlalu padat dan aku kira tadi lantai
bukan kaki mu.” Reflek mengangkat kaki dan meminta maaf meskipun dia tetap saja
dia tidak terima dengan penjelasan ku.
Orang yang aneh penampilan
dan gaya bahasanya tidak pernah aku dengar, kasar banget lagi. Dan singkat
cerita masalah kami tidak hanya di situ, kami kuliah di daerah yang sama
meskipun tidak dalam satu kampus tetapi hampir setiap hari kami berpapasan
karena tempat tinggal kami di satu gang yang sama “Sial orang itu lagi.” protes ku dalam hati saat berpapasan. Aku
selalu membanggakan almamater ku lewat tingkah songong ku setiap bertemu dengan
orang lain terutama dengannya, karena memang kampus ku lebih bagus dari dia.
Tetapi begitu juga dengan dia yang selalu menganggap ku sampah yang hanya bisa
bergantung dengan keberuntungan yang aku miliki, dia menganggap aku bisa kuliah
di kampus ini menggunakan hal yang licik. Walaupun kuliah ku di kampus 3
terbaik di indonesia, tetapi aku tetap saja
merasa iri melihat hal yang bisa di perbuat dengan orang lain termasuk dia.
Setelah puas berkeliling di
ruangan gedung ini kami berencana mau pindah di gedung sebelah. Gedung yang
akan kami kunjungi tertulis besar di depannya MUSIUM WAYANG. Sepertinya
menarik semua perjalanan kami kali ini, kami akan mengenal budaya yang unik di
dalam musium tersebut. Wayang
merupakan kebudayaan asli indonesia yang di wariskan oleh wali songo. Menarik, banyak cerita-cerita tentang wayang yang aku
dengar, salah satunya tentang Rama dan Sinta dan sekarang aku bisa langsung
bertemu dengan mereka di musium ini, mengenal
dekat tentang sejarah mereka para wayang. Excellent
luar biasa sekali, tetapi untuk bisa masuk ke musium itu harus bergantian panjang banget dan ternyata antusias
masyarakat berkaitan dengan wayang tinggi juga begitu juga dengan turis yang
harus rela berjemur untuk masuk kedalam. Terik panas sudah terasa menyengat
kulit.
“Har
lu gak ngerasa panas apa? Gue haus ni, di tambah lagi lapar”. Dengan nada yang
sedikit protes.
“Ya
elah wan, gue juga haus dan lapar, coba liat kita aja masih panjang ngatrinya”.
Menunjuk ke depan antrean yang dari tadi tidak terurai.
“Yauda
ayo kita cari makan dulu, dari pada kita jatuh pingsan”. Melangkahkan menjauhi
kerumunan.
Ada benarnya juga dia, lebih
baik kami makan dulu dari pada harus berjemur sambil menahan dahaga dan lapar.
Kami mencari makanan yang harganya pas di kantong. Lama juga mencari makanan
yang harganya pas di kantong dan akhirnya kami menemukan makanan yang di sebut
gado-gado dan nasi goreng. Kalau aku lebih suka gado-gadonya karena selain
bumbunya yang terbuat dari kacang tanah variasi sayurnya juga banyak, tetapi
kalau si Wawan lebih suka dengan nasi goreng. Dua makan itu merupakan makanan
khas Indonesia, banyak juga turis-turis yang makan dan katanya enak, unik tidak
ada makanan seperti itu di negara mereka.
Rasa iri dan dengki ini
ternyata tidak hanya aku yang merasakan, ternyata dia juga merasakan. Dia bisa
menutupi rasa itu dengan pura-pura tidak ada hal yang pernah terjadi. Remeh
tetapi menyakitkan, sebuah permasalahan yang tak tahu dimana ujungnya. Hanya
hal sepele yang terlalu dibesar-besarkan. Hanya awal pertemuan yang tak pernah
di bayangkan. Masalah ini membesar hingga ke dunia maya, dunia tanpa batas
untuk mengekspresikan semua hal. Permasalahan ini mulai sangat serius, sekarang
kami mulai membawa asal daerah, saling mencaci maki dan merendahkan satu sama
lain.
Hari ini aku minta dia
menjelaskan apa arti semua tindakannya dan mengapa dia mengatakan seperti itu.
Sebenarnya aku bisa lebih rasi, aku bisa mengatakan kalau dia lebih terlahir di
suku yang tertinggal jauh peradabannya. Ini sudah bukan masalah pribadi lagi,
ini masalah suatu kelompok tertentu yang merasa terhina. Sekarang aku tidak
sendiri, banyak yang menemani ku untuk minta penjelasan kepadanya. Karena kami
tidak mau melibatkan kampus kami masing-masing, maka kami memilih lokasinya di
puncak Bogor atau lebih tepatnya dekat ke gunung salak.
Sura dering ponsel
menghentikan gerak tangan ku yang hendak melahap gado-gado. Perlahan ku ambil ponsel
dari saku celana samping. Tanpa melihat siapa yang menghubungi ku langsung ku
jawab dan terdengar.
“Dimana
lu? Gue uda di kota tua ni. Panas banget lagi.” Terdengar suara dari hp
“Gue
lagi makan sama wawan. La lu ngapain ke Kota Tua? Bukanya lu gak bisa datang?”
dengan nada menyelidik
“Iya
benar. Tapi acara gue selesai lebih cepat. Jadi gue langsung ke sini selesai
acara. Uda di mana kalian sekarang?” berseru ketus
“Ya
elah biasa aja nadanya. Gue makan di dekat musium Bank BRI. Sebelahnya itu ada tempat makan bertenda biru.”
“Oke.
Tunggu ya.” Langsung mematikan ponsel nya
Suara wanita yang barusan berbicara
denganku namanya Nuri. Cantik, baik hati dan menurut kami sangat spesial jika
dibandingkan dengan wanita lain yang saya kenal selama di kota. Dia adalah
alasan kenapa aku dan Wawan bisa duduk berdua seperti sekarang. Dia adalah
janji kami di waktu itu. Dia merupakan kunci utama perdamaian antara kami.
Ceritanya terlalu panjang, yang pasti pertikaian yang kami lakukan di bogor
waktu itu bisa berhenti karena wanita satu itu. Dia tidak hanya berani melerai
segerombolan pemuda yang sedang bertikai, dia juga merelakan dirinya terkena
beberapa pukulan dari kami. Awalnya kami heran kenapa wanita ini tiba-tiba
muncul. Namun tanpa berpikir panjang melihat kondisi wanita yang baru saja
muncul itu terkulai lemas kami semua mulai panik, akhirnya menghentikan
pertikaian dan mencari pertolongan untuk wanita itu. Sungguh malang nasibnya,
kenapa dia ikut campur, aneh masalah ini tidak pernah melibatkan wanita. Ternyata
di punya cerita buruk yang hampir sama dengan permasalahan kami. Dia tau
masalah kami karena dia juga kuliah satu kampus denganku. Selama ini dia orang
yang punya nomor misterius, membicarakan hal yang tidak penting kepadaku dan Wawan.
Dulu Nuri memiliki teman
yang awalnya saling membenci seperti kami berdua. Berjalannya waktu kami
mengerti apa yang di inginkan Nuri, perbedaan itu tidak perlu dipermasalahkan. Nuri
pernah bercerita kepada kami, teman nya telah meninggal karena di diagnose oleh
dokter terkena kanker hati. Dia merasa bersalah belum sempat meminta maaf,
sampai sekarang rasa bersalah itu masih menghantui nya. Setelah Nuri siuman
dari pingsannya, dia mengatakan jangan menjadikan sebab apapun itu membuat
kalian menyesal pada waktunya nanti.
“Nah itu Nuri. Nur sini.” Wawan memanggil
“hay..” Melambaikan tangannya dan
menuju ke arah kami
Tiga serangkai julukan kami,
setiap ada Nurul pasti ada wawan dan aku. Perkenalan kami juga melalui hal yang
tidak menyenangkan tetapi melalui perkenalan itu kami mulai bisa menghargai
segala sesuatu dengan baik. Pertemanan kami membuat kami tak menganggap orang
lain lebih renda dari kami. Perjalanan ini masih panjang, namun terasa muda
untuk dilewati karena hadirnya teman-teman yang saling mengerti satu sama lain
layaknya saudara.
Biodata Penulis :
VIRA KURNIAWAN
Laki-laki
Jalan H. Amat no.21 (Pesantren Mahasiswa Al-Hikam)
Kukusan, Beji, Depok.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar