Minggu, 21 Oktober 2018

CERPEN


TAK SEMERAH DARAH
Aku selalu mengatakan. Bukan mereka yang membuat semua ini berubah. Bukan mereka yang menjadikan mimpi ini terhenti dan bukan mereka yang membuatku selalu teringat dengan masa lalu. Aku punya cara pandang dan pemikiran yang berbeda, aku bukan mereka.
Terlahir sebagai satu-satunya lelaki di keluargaku menjadi sebuah tanggungan yang besar. Akulah harapan dari setiap doa-doa orang tuaku bahkan bisa jadi akulah harapan dari miliaran napas yang mengalun-alun setiap harinya di dunia ini. Aku tidak seperti mereka yang terlahir enak dalam hangatnya malam ataupun pagi. Aku bukan seperti mereka yang selalu mendapatkan apapun keinginan mereka. Tidak seperti mereka anak yang tidak mau mengerti hidup yang sesungguhnya.
Perkenalkan aku Harad Haremes Kat, sebuah nama yang di berikan orang tua ku di saat wujud ku terlahir di dunia ini. Nama yang panjang dan aneh. Nama yang hanya orang tuaku lah yang tahu arti dari setiap kata-kata itu. Kata orang tuaku, aku bisa hidup sampai sekarang ini sudah bersyukur. Dulu sewaktu aku kecil hampir tidak bisa tertolong karena waktu itu aku terkena penyakit gatal yang aneh dan tidak ditemukan obatnya. Aku belum bisa berpikir waktu itu apakah hidupku akan berakhir saat itu juga atau tetap berlanjut untuk menorehkan catatan-catatan baru di setiap lembar kehidupan. Aku tidak bisa membayangkan betapa lelahnya perjuangan kedua orang tua ku untuk menemukan obat demi anaknya. Dari pengobatan herbal hingga ke orang-orang yang dipercaya sebagai sesepuh kampung. Biasa zaman dulu belum ada dokter yang bertugas di pedalaman hutan seperti itu, jadi kami lebih suka memanfaatkan alam sekitar yang kami percaya waktu itu.
Hampir lupa, aku tinggal di dekat gunung tertinggi di pulau jawa ini. Pastinya pada tahu gunung apa yang tertinggi di pulau jawa. Iya itu dia Maha Meru gunung yang menjadikan setiap orang cinta dan berlomba-lomba eksis di puncak gunung. Ya karena siapa lagi kalau bukan karena mereka “5 cm”. Entah benar atau tidak di dalam setiap adegan yang mereka lakukan itu. Tetapi mereka berhasil menghipnotis orang-orang yang dulunya tak pernah kenal menjadi kenal dengan namanya mendaki gunung.
Sekarang aku tak tinggal di tanah kelahiranku. Aku memberanikan langkah kaki ini melangkah lebih jauh dari biasanya. Aku merantau ke tanah orang untuk mencari ilmu dan pengalaman hidup baru. Tanah yang aku pijak sekarang dan tepat persis bangunan yang menjulang tinggi di depan ku ini. Merupakan saksi dari setiap perjuangan dalam memperebutkan kemerdekaan nagara ini. Ini adalah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di sini. Terasa bangga masih bisa menyaksikan peninggalan sejarah yang masih terawat sampai sekarang. Kota tua sapaan yang melekat di setiap masyarakat yang mengenalnya. Kini saatnya aku tuk mengenal dia sang saksi perjuangan para pahlawan. Kaki ku mulai melangkah mendekati salah satu bangunan. Aku tak tau nama bangunan itu, tetapi yang pasti itulah tujuan awal ku.
Jam tangan ku menunjukkan pukul sembilan tepat, matahari mulai menari-nari di atas sana. Sedikit berkeringat sambil membawa minuman dingin aku terus melangkah menuju tempat teduh di gedung itu. Satu dua kali aku berpapasan dengan turis-turis mancanegara. Senang, sedikit bangga bisa melihat mereka secara langsung. Masih ada rasa segan untuk mengajak mereka sekadar photo bersama. Terdengar samar-samar dari kejauhan seseorang memanggil namaku. Tadinya si aku kira bule-bule itu yang memanggil namaku. Uda berharap, eh ternyata bukan.
Nah itu dia yang aku tunggu-tunggu dari tadi. Perkenalkan dia yang sedang berjalan ke arah ku namanya Wawan. Seperti biasa nama itu menunjukkan identitas dari mana dia berasal. Tetapi kali ini nama itu bukan menunjukkan dari mana dia berasal, kebanyakan nama Wawan berasal dari suku Sunda. Dia bukan, sedikitpun dia tidak ada dara sunda. Dia berasal dari seberang pulau sana. Nama pulaunya Sumatra. Salah satu pulau yang ada di negeriku, yaitu Indonesia. Kami sama-sama anak perantauan. Bedanya dia menyeberangi lautan kalau aku masih di pulau yang sama hanya dari desa ke kota yang sangat padat ini dan bedan nya lagi aku tidak sekeras dia. Maksudnya keras, yaitu semua percakapan dan tindakannya terlalu banyak perhitungan kalau sudah mengambil keputusan tidak mau mundur, itu dan ini harus ada aturannya tetapi dia orangnya super menyenangkan, teman yang bisa dibilang saudara perjuangan di perantauan. Kota dengan lautan manusia dimana-mana. Kota dengan semua kesibukan menjadi satu. Kota dengan kehidupan tanpa tidur 24 jam di setiap harinya. Inilah dia Jakarta wajah dari negeriku, kata orang-orang sekarang kami berdiri tepat di pusat kotanya. Ternyata seperti ini kota yang selalu menjadi tujuan banyak orang dari penjuru pelosok. Banyak sekali kalau disuruh bercerita tentang Indonesia. Bisa berjilid-jilid buku yang akan terbit tentang Indonesia.
 “Woy, kenapa?” Memperhatikan aku
 “Enggak ada. Lama banget lu? Gue dah hampir habis satu botol minum ni.” menunjukkan botol minum
“ Hehehe, sorry tadi ada kendala sedikit, ayo masuk.” menunjuk ke arah pintu
Sambil melangkahkan kaki aku merasa sebal dengan tingkahnya, pasti kalau ada kegiatan apapun dia tidak pernah tepat waktu. Selalu saja telat dan dia pasti punya alasan untuk semua itu, dasar menyebalkan. Walaupun dia menyebalkan dia adalah teman yang sangat baik, teman yang mengerti akan keadaan teman yang lainnya. Tetapi sebelum kami berteman atau bersahabat seperti saat ini, ada hal yang tidak mengenakan diantara kami. Kami saling membenci satu dengan yang lain. Dengan sifat ku yang angkuh dan sifat dia yang tak peduli. Ditambah lagi dengan kultur kami yang berbeda, menyulut bara api yang membara diantara kami.
Kejadiannya satu tahun yang lalu, tepatnya di comuter line atau kereta api listrik JABODETABEK. Waktu itu aku baru sampai di Jakarta. Stasiun Pasar Senin merupakan stasiun pertama aku menginjakkan kaki di tanah Betawi, rasa bangga itu datang dalam diri ini namun juga diiringi dengan rasa takut yang selalu menghantui karena tidak ada satu pun orang yang aku kenal di tanah Betawi ini, kedua orang tua ku juga tidak ikut menghantar ku ke Jakarta. Keberanian lah yang selalu mendorong ku untuk terus melangkah dan melangkah. Bingung mau ke mana lagi, akhirnya aku bertanya kepada petugas stasiun kereta arah tempat yang akan ku tuju. Sekarang sudah hampir 25 menit naik kereta menuju alamat yang aku pegang ini, awalnya aku menikmati perjalanan ini meskipun dari tadi berdiri. Beberapa menit terdengar suara yang menandakan kereta api berhenti di salah satu stasiun, yaitu Stasiun Manggarai. Perhatian ku tertuju ke luar kereta yang dipenuhi lautan manusia. Pintu kereta perlahan terbuka dan seketika itu juga lautan manusia berebut masuk ke dalam kereta melalui pintu-pintu kecil itu. Sadis, tidak ada sedikitpun ruangan yang tidak terlihat padat dan aku terhimpit di antara gerombolan manusia yang tak ku kenal. “ Waduh !, mata tu dimana? Liat dong. Kau pijak kakiku ni.” suara itu menghentikan hiruk pikuk di sekitar ku dan aku heran kenapa pandangannya mengarah ke wajah ku. Ternyata aku tidak sengaja menginjak kaki orang yang di depan ku, ya memang sedikit kuat hentakan kaki ku yang mengarah ke lantai di karena kan sebal dengan kondisi ku sekarang, sungguh di luar dugaanku hal seperti ini dan aku tidak tau kalau itu bukan lantai melainkan kaki orang “ Ya sorry aku gak tau, soalnya terlalu padat dan aku kira tadi lantai bukan kaki mu.” Reflek mengangkat kaki dan meminta maaf meskipun dia tetap saja dia tidak terima dengan penjelasan ku.
Orang yang aneh penampilan dan gaya bahasanya tidak pernah aku dengar, kasar banget lagi. Dan singkat cerita masalah kami tidak hanya di situ, kami kuliah di daerah yang sama meskipun tidak dalam satu kampus tetapi hampir setiap hari kami berpapasan karena tempat tinggal kami di satu gang yang sama “Sial orang itu lagi.” protes ku dalam hati saat berpapasan. Aku selalu membanggakan almamater ku lewat tingkah songong ku setiap bertemu dengan orang lain terutama dengannya, karena memang kampus ku lebih bagus dari dia. Tetapi begitu juga dengan dia yang selalu menganggap ku sampah yang hanya bisa bergantung dengan keberuntungan yang aku miliki, dia menganggap aku bisa kuliah di kampus ini menggunakan hal yang licik. Walaupun kuliah ku di kampus 3 terbaik  di indonesia, tetapi aku tetap saja merasa iri melihat hal yang bisa di perbuat dengan orang lain termasuk dia.
Setelah puas berkeliling di ruangan gedung ini kami berencana mau pindah di gedung sebelah. Gedung yang akan kami kunjungi tertulis besar di depannya MUSIUM WAYANG. Sepertinya menarik semua perjalanan kami kali ini, kami akan mengenal budaya yang unik di dalam musium tersebut. Wayang merupakan kebudayaan asli indonesia yang di wariskan oleh wali songo. Menarik, banyak cerita-cerita tentang wayang yang aku dengar, salah satunya tentang Rama dan Sinta dan sekarang aku bisa langsung bertemu dengan mereka di musium ini, mengenal dekat tentang sejarah mereka para wayang. Excellent luar biasa sekali, tetapi untuk bisa masuk ke musium itu harus bergantian panjang banget dan ternyata antusias masyarakat berkaitan dengan wayang tinggi juga begitu juga dengan turis yang harus rela berjemur untuk masuk kedalam. Terik panas sudah terasa menyengat kulit.
“Har lu gak ngerasa panas apa? Gue haus ni, di tambah lagi lapar”. Dengan nada yang sedikit protes.
“Ya elah wan, gue juga haus dan lapar, coba liat kita aja masih panjang ngatrinya”. Menunjuk ke depan antrean yang dari tadi tidak terurai.
“Yauda ayo kita cari makan dulu, dari pada kita jatuh pingsan”. Melangkahkan menjauhi kerumunan.
Ada benarnya juga dia, lebih baik kami makan dulu dari pada harus berjemur sambil menahan dahaga dan lapar. Kami mencari makanan yang harganya pas di kantong. Lama juga mencari makanan yang harganya pas di kantong dan akhirnya kami menemukan makanan yang di sebut gado-gado dan nasi goreng. Kalau aku lebih suka gado-gadonya karena selain bumbunya yang terbuat dari kacang tanah variasi sayurnya juga banyak, tetapi kalau si Wawan lebih suka dengan nasi goreng. Dua makan itu merupakan makanan khas Indonesia, banyak juga turis-turis yang makan dan katanya enak, unik tidak ada makanan seperti itu di negara mereka.
Rasa iri dan dengki ini ternyata tidak hanya aku yang merasakan, ternyata dia juga merasakan. Dia bisa menutupi rasa itu dengan pura-pura tidak ada hal yang pernah terjadi. Remeh tetapi menyakitkan, sebuah permasalahan yang tak tahu dimana ujungnya. Hanya hal sepele yang terlalu dibesar-besarkan. Hanya awal pertemuan yang tak pernah di bayangkan. Masalah ini membesar hingga ke dunia maya, dunia tanpa batas untuk mengekspresikan semua hal. Permasalahan ini mulai sangat serius, sekarang kami mulai membawa asal daerah, saling mencaci maki dan merendahkan satu sama lain.
Hari ini aku minta dia menjelaskan apa arti semua tindakannya dan mengapa dia mengatakan seperti itu. Sebenarnya aku bisa lebih rasi, aku bisa mengatakan kalau dia lebih terlahir di suku yang tertinggal jauh peradabannya. Ini sudah bukan masalah pribadi lagi, ini masalah suatu kelompok tertentu yang merasa terhina. Sekarang aku tidak sendiri, banyak yang menemani ku untuk minta penjelasan kepadanya. Karena kami tidak mau melibatkan kampus kami masing-masing, maka kami memilih lokasinya di puncak Bogor atau lebih tepatnya dekat ke gunung salak.
Sura dering ponsel menghentikan gerak tangan ku yang hendak melahap gado-gado. Perlahan ku ambil ponsel dari saku celana samping. Tanpa melihat siapa yang menghubungi ku langsung ku jawab dan terdengar.
“Dimana lu? Gue uda di kota tua ni. Panas banget lagi.” Terdengar suara dari hp
“Gue lagi makan sama wawan. La lu ngapain ke Kota Tua? Bukanya lu gak bisa datang?” dengan nada menyelidik
“Iya benar. Tapi acara gue selesai lebih cepat. Jadi gue langsung ke sini selesai acara. Uda di mana kalian sekarang?” berseru ketus
“Ya elah biasa aja nadanya. Gue makan di dekat musium Bank BRI. Sebelahnya  itu ada tempat makan bertenda biru.”
“Oke. Tunggu ya.” Langsung mematikan ponsel nya
Suara wanita yang barusan berbicara denganku namanya Nuri. Cantik, baik hati dan menurut kami sangat spesial jika dibandingkan dengan wanita lain yang saya kenal selama di kota. Dia adalah alasan kenapa aku dan Wawan bisa duduk berdua seperti sekarang. Dia adalah janji kami di waktu itu. Dia merupakan kunci utama perdamaian antara kami. Ceritanya terlalu panjang, yang pasti pertikaian yang kami lakukan di bogor waktu itu bisa berhenti karena wanita satu itu. Dia tidak hanya berani melerai segerombolan pemuda yang sedang bertikai, dia juga merelakan dirinya terkena beberapa pukulan dari kami. Awalnya kami heran kenapa wanita ini tiba-tiba muncul. Namun tanpa berpikir panjang melihat kondisi wanita yang baru saja muncul itu terkulai lemas kami semua mulai panik, akhirnya menghentikan pertikaian dan mencari pertolongan untuk wanita itu. Sungguh malang nasibnya, kenapa dia ikut campur, aneh masalah ini tidak pernah melibatkan wanita. Ternyata di punya cerita buruk yang hampir sama dengan permasalahan kami. Dia tau masalah kami karena dia juga kuliah satu kampus denganku. Selama ini dia orang yang punya nomor misterius, membicarakan hal yang tidak penting kepadaku dan Wawan.
Dulu Nuri memiliki teman yang awalnya saling membenci seperti kami berdua. Berjalannya waktu kami mengerti apa yang di inginkan Nuri, perbedaan itu tidak perlu dipermasalahkan. Nuri pernah bercerita kepada kami, teman nya telah meninggal karena di diagnose oleh dokter terkena kanker hati. Dia merasa bersalah belum sempat meminta maaf, sampai sekarang rasa bersalah itu masih menghantui nya. Setelah Nuri siuman dari pingsannya, dia mengatakan jangan menjadikan sebab apapun itu membuat kalian menyesal pada waktunya nanti.
“Nah itu Nuri. Nur sini.” Wawan memanggil
“hay..”  Melambaikan tangannya dan menuju ke arah kami
Tiga serangkai julukan kami, setiap ada Nurul pasti ada wawan dan aku. Perkenalan kami juga melalui hal yang tidak menyenangkan tetapi melalui perkenalan itu kami mulai bisa menghargai segala sesuatu dengan baik. Pertemanan kami membuat kami tak menganggap orang lain lebih renda dari kami. Perjalanan ini masih panjang, namun terasa muda untuk dilewati karena hadirnya teman-teman yang saling mengerti satu sama lain layaknya saudara.


Biodata Penulis :
VIRA KURNIAWAN
Laki-laki
Jalan H. Amat no.21 (Pesantren Mahasiswa Al-Hikam) Kukusan, Beji, Depok.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Exploring the Field of Electrical Engineering

Exploring the Field of Electrical Engineering Electrical Engineering is a versatile and highly sought-after discipline that encompasses the ...